ꜱᴜɴ—ꜰʟᴏᴡᴇʀ 🌻

ꜱᴜɴ—ꜰʟᴏᴡᴇʀ 🌻

17-11-2022

14:32

(01/20) Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Namun sayangnya, Marc— bocah kecil yang hampir berusia tiga tahun ini masih terjaga dengan kedua matanya yang tampak jernih dan sedari tadi bercerita banyak hal. Nanon bermain rambut Marc sambil mendengarkan—

(02/20) —celoteh ria yang Marc ceritakan. "Kakak nggak ngantuk?" "Belom! Papah cudah?" "Sedikit." "Daddy Pau?" "Belum," jawab Pawat juga dengan masih bersandar di kepala ranjang dan bergelut dengan sedikit pekerjaannya di tab. "Tadi kakak nakal nggak di rumah—

(03/20) —kak Patrick sama kak Prana?" "Enggak appa, Marc enggak nakal." Jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan. "Pinternya anak papa, ya?" "Iyah! Tadi Marc juga bobo ciang papah." "Oh, pantesan jadi masih belom ngantuk?" "Yah!"

(04/20) "Tadi Marc main apa aja sama kak Prana sama kak Patrick?" Tanya Nanon. "Banyak—" tangan mungil Marc bergerak menggambarkan betapa banyaknya permainan yang ia lakukan bersama kak Prana dan kak Patrick. "Main obin, obin akak Petlik banyak! Tapi Marc enggak rusak."

(05/20) "Iya, kalo main harus dijaga baik-baik ya, biar nggak rusak. Biar besok bisa dipake main lagi." "Marc pinjam duwa, lainnya enggak. Lainnya dijejer di lemari banyak kayak mainan Appa sama Pau." "Terus kalo udah selesai bermain, dibalikin, dirapihin nggak?"

(06/20) "Iya! Marc bantu akak Plana beresin mainan akak Petlik nggak bantu. Main pees aja. Akak Plana marah-marah, kayak Appa. Hihi." Cerita Marc diikuti kekehan kecil diakhirnya. "Pinternya," ucap Nanon seraya mengecup gemas hidung Marc. "Marc juga main jadi hantu— waa! Kayak—

(07/20) —Pau jadi hantu sama cimut. Marc kageti akak Petlik tapi enggak takut," ceritanya. "Marc sembunyi ambil cimut akak Petlik. Baa— akak Petlik malah tawa enggak takut sama Marc." Nanon tersenyum gemas. "Ayok main jadi hantu, Appa?" "Ih, udah malem masa masih mau—

(08/20) —bermain?" Tanya Nanon. "Mau, tapi Pau jadi hantu yah?" Marc menutup tubuh mungilnya dengan menarik selimut tidur miliknya. "Ayo Pau jadi hantu, baa!" Marc membuka kembali selimutnya. "Baa!" Goda Pawat. Marc terkejut, ia tertawa bahagia. "Udah malem kak, besok aja—

(09/20) —ya mainnya?" Pinta Pawat. "Pau enggak mau?" "Udah malem, capek." "Bobok yah?" "Iya." Pawat ikut merebahkan dirinya di samping Marc setelah selesai dengan pekerjaannya. "Kakak seneng banget ya main sama kak Patrick, kak Prana?" Tanya Pawat. "Seneng! Akak Petlik—

(10/20) —ama akak Plana baik, main terus. Enggak kayak eyang Miu, kerja terus enggak main sama Marc." "Hahaha." Pawat tertawa. "Eyang Miu sibuk cari uang buat beli mainannya Marc katanya." "Iyah, biar mainan Marc banyak!" "Kamu makin besar makin ceriwis kayak Appa ya?"

(11/20) "Anak Appa!" "Iya, anak Appa ya bukan anak Pau. Hahaha." Kini gantian Pawat yang menciumi gemas pipi Marc, hingga ia meronta berusaha lepas dari serbuan ciuman Pawat. "Appa!" "Ya?" "Marc mam ais klim tadi ama akak Plana!" "Tuh kan, pasti kakak ya yang minta? Padahal—

(12/20) —tadi udah janji gak makan es krim dulu. Hayo?" "Enggak, Marc dikasih ama akak Plana. Dikit aja, segini." Tunjuk Marc memperagakan 'sedikit' dengan menempelkan jari telunjuk dan jempolnya tanpa ada ruang di antaranya. "Terus udah bilang makasih belom sama kak Prana?"

(13/20) "Udah." "Bener?" "Iyah, udah bilang acih ama akak Plana." "Gimana bilangnya?" "Makacih akak Plana ais klimnya, yayam goyengnya, ama kuwenya. Kata akak Plana iyah." "Good boy!" Lagi-lagi kini gantian Nanon yang menciumi sisi pipi lain milik Marc.

(14/20) "Besok main lagi yah sama akak Plana ama akak Petlik, oke Appa?" "Katanya besok mau bobok di eyang Tawan?" "Ya! Marc angen eyang Awan! Mau temu yah?" "Iya, besok ya. Sekarang udah malem bobok dulu. Oke?" Marc menggeleng. "Kakak gak ngantuk?" Itu suara Pawat—

(15/20) —yang terdengar dengan tone yang lebih rendah dimana hampir setengah kesadarannya telah melayang. Celotehan Marc seolah menjadi dongeng untuknya menjemput alam mimpi. "Addy Pau mo bobok?" "Iya. Daddy Paw udah ngantuk. Kakak bobok juga ya?" "Ehm! Ayo Appa bobok."

(16/20) "Yuk. Papa redupin lampunya ya?" "Iyah. Appa cimutin Marc yah?" "Iya." Tangan Nanon bergerak meraih selimut kecil milik Marc untuk menaikkannya menutupi tubuh mungil anak laki-laki manis ini. "Good night, kakak Marc." Nanon mengecup dahi Marc sekali. "Mimpi indah—

(17/20) —ya sayang." Nanon mengecup sekali lagi hidung mungil Marc. Marc tersenyum gemas. Begitupun Pawat, sebelum ia benar-benar terlelap, ia berucap juga, "Good night kakak Marc," Pawat mencium Marc juga. "Good night juga, sayang." Lalu Pawat mengecup kening Nanon hangat.

(18/20) "Good night juga daddy Pawnya Marc," balas Nanon. Ohm Pawat tersenyum lebar sebelum akhirnya ia benar-benar tertidur dengan cepat. Sepuluh menit kemudian, Marc belum bisa tidur. "Appa?" "Hm?" Jawab Nanon dengan mata tertutup karena setengah nyawanya sudah—

(19/20) —ditarik ke alam mimpi. "Marc mau cimut baru yah?" "Selimut apa, kak?" Tanya Nanon lirih. "Cimut becar, kayak punya akak Plana. Yah?" "Iya, besok ya?" "Iyah! Besok Marc tanya akak Plana beli di mana yah?" "Okey. Udah ya, kakak bobok ya?" "Iyah. Appa puk puk—"

(20/20) Marc membalik tubuhnya menghadap Nanon. Nanon mendekap Marc kemudian. Satu tangannya bergerak mem-puk-puk Marc. Sementara itu, tangan mungil Marc bermain-main dengan rambut Nanon yang semakin panjang di hari-hari ini. "Appa cantik. Selamat bobo Appa, Pau." 🐶🐱👶🏻

🌻 Cerita sebelumnya by @sawasheree di sini:

🌻 Kotak surat cinta untuk Ohm, Nanon, dan Marc: 🌻 Jajan minuman masa kini Matcha Latte di lapak Sunflower di sini:

🌻 Bagian cerita lainnya: "Ohm, Nanon, dan Marc." 🌻 Terima kasih sudah membaca ya! Good night!



Follow us on Twitter

to be informed of the latest developments and updates!


You can easily use to @tivitikothread bot for create more readable thread!
Donate 💲

You can keep this app free of charge by supporting 😊

for server charges...