Adimas

Adimas

25-12-2021

13:08

Sabtu, 25 Desember 20.07 WIB Akhirnya aku pengen berbagi sedikit kisah yang belum pernah aku ceritakan di sini. Pengalaman selama 1,5 tahun tinggal di sebuah kos yang “berkesan” bukan cuma buat aku, tapi beberapa teman2ku yang berkunjung.

Cerita ini bermula dari bulan September tahun 2019, awal mula aku pindah ke Jakarta buat kerja. Kebetulan aku keterima di salah satu Konsultan Arsitek di daerah Bintaro Tangsel waktu itu, jadi harus pindah ke Jakarta buat kerja.

Awal mula kepindahanku ke Jakarta agak galau, dan sejujurnya aku bohong ke Ibuk masalah gaji, karena pada waktu itu aku cuma dapet tawaran 3jt perbulan (selama probation), tapi aku bohong ke ibuk sama bapak kalau gajiku 4jt biar boleh pindah ke Jakarta karena udah stress nganggur

Aku bilang ke Ibuk “Buk, ini selama masa percobaan gaji emang segini (4jt) tapi nanti naik kok setelah selesai masa Percobaan (aku bilang gajiku 5jt padahal sebenernya 3.850)” “yawis gapapa, gak usah ngekos ya, ngelaju aja dari tempat mbak mu di Bekasi biar hemat” kata ibuk.

Awalnya bapak sama ibuk menentang kepindahanku dan keputusanku buat kerja di Kantor ini, soalnya bapaku mikir mosok gaji cuma segitu? Dengan sabar aku jelasin kalau namanya juga freshgrad, minim pengalaman, apalagi selama kuliah aku gak boleh magang sama ortu.

Akhirnya Bapak sama Ibuk melunak dan meng-ikhlaskan keberangkatanku ke Jakarta untuk merantau. maklum, anak bungsu dan anak laki2 satu2nya, pasti berat buat Bapak sama Ibuk ngelepas aku ke Jakarta.

Sampai akhirnya tibalah hari dimana aku berangkat ke Jakarta (lebih tepatnya ke Bekasi sih) Bapak sama Ibuk nganter aku ke Stasiun, selama di Stasiun Ibuk sama sekali gak ngelepasin tanganku.

Ketika kereta tiba, aku peluk bapak sama ibuk dan kepergianku diiringi air mata bapak sama ibuk. “Jakarta, aku datang..”

Sesampainya di Jakarta (BEKASI SIH), aku langsung menuju rumah Kakaku, karena memang pesan ibuku adalah gak usah ngekos dulu, dilaju aja PP Bekasi-Bintaro. Awalnya aku iya2in aja biar dapet izin dulu ngerantau ke Jakarta.

Sampai akhirnya PP Bekasi Bintaro naik KRL berjalan 2 Minggu, aku ngerasa capek banget, bukan kerjanya, tapi di jalannya, KRLnya. masuk kantor jam 10, jam setengah 7 udah harus berangkat dari rumah kakak, sampe kantor jam 9-10 pagi (kadang skip kereta kalau kepenuhan)

Pulang kantor jam 6/7 malam, sampai rumah di Bekasi jam 10 malam, mandi, makan, jam setengah 12 atau jam 12 malam tidur, repeat. capek? iya capek banget.

Sampai akhirnya jujur cerita ke Kakak Ipar, ke mbaku, sama ke Ibuk. Kakak ipar ngomong “ya kamu ngekos sama PP Bekasi Bintaro biayanya sama aja, mending ngekos, kenapa gak ngekos aja? daripada sakit, malah gak produktif kerja” alasan logis yang akhirnya aku sampaikan ke ibuk

“Buk, Mas Rudy bilang mending ngekos daripada capek, nanti buat bulan pertama, uang kos dipinjemin dulu” “yawis le, kalau itu yang terbaik, trus kamu rencana mau cari kos kapan?” “paling weekend ini buk, nanti aku minta anter temenku buat nyari kosan”

akhirnya aku minta tolong temenin @fahrejerk_ buat nyari kosan daerah bintaro dan kebetulan dia sekalian nyari kosan, kami berencana buat ngekos bareng akhirnya. pesen bapak cuma 1 cari kosan yang ada jendela menghadap keluar, ada cahaya matahari dan kalau bisa ada halaman.

hari pertama nyari udah shock ya Allah, kosan di Jakarta mahal2 banget ya… dan yang sesuai kriteria bapak hampir gak ada.. akhirnya aku sama reza memutuskan kalau lebih baik sharing kamar biar harganya lebih affordable..

masalah sharing kamar inipun aku sembunyiin dari ortuku karena aku gak mau ortuku khawatir sama keuangan anaknya di perantauan hari ke 2, akhirnya kita masuk ke sebuah kompleks perumahan yang cukup bagus, dan tanya ke orang di pos satpam di sebuah tikungan jalan.

“permisi Bapak, izin numpang tanya Pak, daerah sini ada kos2an untuk karyawan laki2 gak ya pak?” “loh, ini mas, rumah ini kosan kok, silahkan aja mas kalau mau lihat2, sama nenek penjaganya di dalem” ucap seorang warga sambil menjelaskan dan menunjukan kamj sebuah rumah.

rumah yang ditunjuk sama warga tadi adalah rumah yang cukup luas, kalau bisa aku perkirakan, luasnya mungkin ada 800-1000m persegi. area rumah ini terbagi menjadi 2, bangunan rumah dan kebun yang ditengah2nya terdapat sebuah bangunan kamar juga..

rimbun, teduh, dingin, dan terasa sedikit aneh. aku dan Reza saling berpandangan. “mau nyoba cek?” tanya reza “yaudah sok ayok, gak ada salahnya ngecek, kalau gak sreg ntar tinggal nyari lagi kan..” jawabku (kira2 mirip kayak gini vibe rumahnya)

“Permisi…” “Oh iya Om, silahkan om..” ucap seorang nenek bertubuh kecil, rambut putih dan keriput memenuhi wajahnya “Permisi nek, kami lagi nyari2 kosan, di sini masih ada kamar kosong gak ya nek?” tanyaku “Ohh masih Om masiih, ini satu rumah kosong semua kok Om kamarnya”

“Di sini bisa buat berdua nek kamarnya?” tanya Reza “Bisa om bisa, tapi kalau mau berdua harus di yang kamar besar, yang kasurnya ada 2” “ooh, boleh lihat2 ke dalem nek?” “boleeh om boleh, mari om saya antar ke dalam”

ketika kami melangkahkan kaki ke dalam rumah, sangat terasa rumah dengan vibes 90an. lantai terazo yang sudah menguning, jendela berbentuk nako, kipas angin gantung.. rumahnya terasa nyaman, tapi di saat bersamaan terasa janggal..

“Ada berapa kamar Nek di sini?” “ada 6 kamar om, 4 kamar yang gede, 2 kamar yang kecil om, sebentar ya Om, saya bukain dulu kamarnya biar Om bisa lihat2 masuk” ucap nenek penjaaga dengan suara khas wanita tua sedikit serak

kira2 begini denah rumahnya K = kamar RT = Ruang Tamu 4 kamar besar menghadap ke ruang tengah terdapat satu kamar kecil di sebelah pojok kanan bawah yang menghadap ke kebun yang disewa oleh orang kelurahan. terdapat 2 kamar mandi luar yang menghadap ke sebuah innercourt.

kamar di sebelah kiri atas adalah kamar penjaga (suami istri) yang menghadap ke sebuah lorong di samping rumah. dan kamar yang akhirnya aku dan reza pilih adalah kamar di sebelah kiri di sebelah ruang tamu dan dapur.

“gimana za?” “akusih suka sama suasana rumahnya” “iyasih, enak ya, kayak bukan kosan, tapi suasana rumah nenek gitu” “iya adem, trus ada dapur juga kalau kamu mau masak mas” tambah reza “iya juga..”

“ini yang punya kosan orang mana nek?” tanyaku kepada nenek “orang jakarta utara Om, tapi gak pernah ke sini Om” “owalah.. berapa nek kamar yang besar harga sewanya?” “1,300 om, kalau berdua juga sama, tapi listrik sendiri ya Om” wow, harga yang sangat murah pikirku

tapi, semakin aku perhatikan, ada beberapa hal yang cukup aneh dari rumah ini.. 1. Terdapat mangkuk berisi air lengkap dengan kembang setaman terapung di meja pojok ruang tamu 2. Terdapat kaligrafi di dinding ruang tamu 3. banyak sekali lukisan lukisan tergantung

bukan, bukan lukisan biasa, tapi lukisan yang menurutku cukup tua dan cukup membuatmu merasa tidak nyaman ketika terlalu laama memandangnya lukisan suasana pasar, lukisan petani sedang panen, lukisan penari bali… ah, mungkin memang pemiliknya cukup eksentrik pikirku

“kalau gitu, besok kamu kabari lagi ya nek gimana gimananya, kira2 ada nomor yang bisa kami hubungi nek?” “Ini om, nomor saya aja, soalnya nomor yang didepan itu nomer bapak sama ibuk kos, tapi mereka gak mau ngangkat telefon dari nomor yang gak dikenal”

lah, trus buat apa nomor mereka dipajang di pagar depan kalau mereka gak mau respon nomor asing? tapi yasudahlah, yang penting sudah dapat nomor neneknya “kalau gitu kita pamit ya nek, kalau jadi sewa, nanti kami kontak nenek lagi, makasih ya nek”

di sepanjang jalan pulang, aku dan reza mengobrol tentang pertimbangan2 kami sekaligus mencari opsi kosan lain di sekitar situ.

setelah hampir seharian mencari2 kosan, kami menenukan beberapa opsi kosan. singkat cerita, pilihan kamj tertuju pada kos di pojok jalan. pertimbangan kami: seperti rumah, nyaman, dan tentu saja karena murah serta lokasi strategis di tengah2 antara kantorku dan tpt kerja reza

setelah diskusi panjang, kami membayar uang sewa dan siap untuk pindah ke kos baru kami “Mbak, besok aku pindahan ya, tapi bawa2 baju dulu baru lusa tidur di sana biar gak banyak bawaannya” “naik apa ke sana?” “biasa KRL, trus lanjut grab paling ke kosan”

“yawis, ajak Kevin sekalian suruh bantu2, lagian dia juga seneng naik kereta kan” “oke mbak, besok kita jalan ya Vin” ucapku ke keponakanku yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 5 SD

pukul 2 siang aku dan Kevin diantar mbak ku ke stasiun Kranji, kami menunggu KRL dan berganti KRL 2 kali di Manggarai lalu di Tanah Abang. sesampainya di Stasiun Pondok Ranji, aku memesan Grab Car untuk ke kosan. waktu sudah menunjukan pukul 4 sore saat itu

sesampainya di kos itu, aku langsung menemui Nenek penjaga kos dan langsung meminta kunci untuk merapikan baju2 yang kami bawa. Baru pukul 4 sore, tapi suasana di dalam rumah sudah cukup gelap pikirku. “yawis Vin, buruan bantuin Om Dimas masuk2in baju ke Lemari trus kita makan”

aku nyalakan lampu kamar, tapi suasana kamar masiih remang2.. 30 menit sudah kami menata pakaian ke dalam lemari, entah kenapa aku merasa tidak nyaman takut, cemas, seperti dikejar2 sampai akhirnya . . . . cekrek… tiba2 pintu kamar terbuka..

aku sama kevin langsung otomatis ngelihat ke pintu.. gak ada orang dan gak ada angin.. kevin langsung mengalihkan pandangan ke aku “Om Dimas kurang kenceng kali Vin tadi nutupnya, yuk buruan kelarin trus kita makan ya”

akhirnya aku sama Kevin langsung sesegera mungkin menyelesaikan proses rapi2 kami dan kami berpamitan ke Nenek penjaga kos “Nek, besok saya mulai tidur di sini ya, saya pulang dulu”

Besoknya, aku dan Reza mulai pindah ke kosan dan hal pertama yang kami lakukan adalah mengganti lampu kamar dengan lampu yang lebih terang. oiya, penjaga kos di sini ada 3 si nenek yang menjaga dari pagi sampai sore, dan Mas Tri dan Istrinya (sebut saja mbak wahyu)

Mas Tri kerja di sebuah bengkel dan pulang di atas jam 9 malam sedangkan mbak wahyu kerja di toko milik istri owner di daerah Tanah Abang Mbak Wahyu ini sedang hamil besar pada saat kami masuk.

Jam kerja kantorku adalah jam 10 pagi sampai 7 malam kalau tidak lembur, tapi kalau lembur bisa sampai jam 1 pagi sedangkan reza kerja di Rumah Sakit, sehingga jam kerja dia tergantung shift.

Saat Reza masuk jadwal siang dan pulang jam 10, aku pulang jam 7 dan hanya berdua saja dengan Mbak Wahyu di rumah sebesar 500m persegi beserta kebun 500m persegi dan suara soang dari Kebun.. karena di Kompleks perumahan, jalanan depan kos kami sangat sepi

Sampai akhirnya, pada suatu malam Reza sudah terlelap terlebih dahulu dan aku masih sibuk bermain HP di kasur menunggu kantuk datang. sampai pada akhirnya aku bisa mendengarkan pintu kamar kami seperi sedang “digaruk” oleh kuku tangan kruuuuuk….. kruuuuuk….

“oh. sudah mulai ya..” gumamku dalam hati ya, bukannya tidak menaruh rasa curiga, tapi sedari awal aku memang sudah “mempersiapkan diri” karena lebih baik prepare for the worst bukan? suara garukan di pintu kamar itu selalj kudengar setiap malam setelah Reza terlelap..

di saat menunggu Reza pulang kerja saat shift malam, aku masih berani berkeliaran di ruang tengah dan dapur, karena memang di pikiranku ada Mbam Wahyu yang menemani (ya meskipun di kamar yang menghadap luar) tapi setidaknya ada 2 manusia di rumah ini pikirku

sampai akhirnya.. “Mas, saya mau pamit ya, saya mulai Desember nanti gak di sini lagi, soalnya saya mau melahirkan di kampung mas” ucap Mbak Wahyu kepadaku di ruang tengah “ooh, oke mbak, trus kapan mbak rencana balik lagi?” “enggak mas, saya gak balik lagi..”

“saya mau di kampung aja ngurus anak, kasihan anak saya tinggal..” “owalah, yawis mbak, tapi mas Tri maasih di sini mbak?” “iya mas, masih kok, Mas Tri masih di sini”

“Yasudah mbak, semoga lahirannya lancar, anaknya sehat ya mbak” “iya mas Makasih banyak ya mas..” waktu berlalu sampai akhirnya Mbak Wahyu benar2 meninggalkan Jakarta untuk melahirkan dan merawat anak2nya di kampung halaman..

Malam pertama tanpa Mbak Wahyu.. malam itu aku sudah pulang dari kantor jam 6 maghrib sesampainya di kos, kosan dalam keadaan gelap gulita, ternyata Mas Tri belum pulang dan Nenek lupa menyalakan lampu rumah. dengan sedikit bergidik, aku mencoba menyalakan lampu depan

Kubuka kaca nako untuk meraih kunci depan, lalu lanjut dengan menyalakan lampu dalam.. setelah lampu menyala, tiba2 perasaanku tidak enak, seperti ada yang sudaah menungguku pulang mencoba tenang, aku segera berjalan cepat ke pintu kamar dan masuk kamar

“Za, pulang jam berapa?” kukirim pesan WA ke Reza “jam 10 mas, kenapa?” “yaudah deh, aku makan malemnya nunggu kamu aja, aku gak berani keluar kamar” “lhoh kenapa? Mas Tri belum pulang ya?” “Iya belum, aku sendirian di kosan”

Jam menunjukan pukul 21.30 asam lambungku mulai naik, perutku mulai perih.. “Za, kita punya makanan apa ya di kulkas? asam lambungku naik” “ada otak2 mas, goreng aja buat ganjel dulu”

dilema adalah kondisi yang tepat menggambarkan suasanaku pada saat itu aku lapar, perutku perih, tapi aku tidak berani membuka pintu kamar kaarena entah kenapa aku merasa sudah “ditunggu” seseorang, atau mungkin sesuatu di luar kamar

“Persetanlah sama apapun yang menunggu, aku lapar!” segera aku keluar kamar dan menuju dapur dapur kos tidak memiliki daun pintu dan posisi pintu tepat di samping kanan sedikit di belakang pada saat aku menggoreng otak2

dari sudut mataku, secara samar aku masih bisa melihat ruang tengah.. “ayodong buruan mateng” kakiku menggigil seperti siap menghadapi sesuatu..

dari sudut mataku, tiba2 aku melihat bayangan putih melompat lompat di sekeliling meja makan ruang tengah.. “Ya Allah, ini otak2 masih lama ya?” gumamku dalam hati karena penasaran, kucoba menengok ke arah ruang tengah… kosong

aku kembali menggoreng, tapi kemudian di sudut mata bisa kulihat sesuatu melompat2 di ruang tengah.. “please, please jangan makhluk yang (itu) please..” aku coba kembali menengok ke ruang tengah.. . . . kosong

kembali aku memalingkan pandanganku dari ruang tengah dan fokus menggoreng otak2 karena perutku semakin perih.. tanganku gemetar, lututku lemas. aku tidak bisa membedakan lagi karena lapar atau karena takut..

kembali dari sudut mataku aku bisa melihat kali ini bukan sesuatu lagi, kali ini lebih jelas iya, itu pocong sedang melompat mengelilingi meja tengah kain kafan musam, getaran loncatan di lantai bisa kurasakan dan suasana mendadak dingin tak karuan

sontak segera kubesarkan api komporku berharap otak2ku akan cepat matang 5 menit, tidak lama sampai akkhirnya aku memutuskan otak2ku sudah matang, tapi 5 menit yang sangat panjang. segera kuangkat otak2 dari atas wajan, kuletakan di atas piring lalu aku lari ke kamar

tidak lupa aku mengunci kamar dan segera menenangkan diri. “pocong, yang muncul duluan pocong” gumamku dalam hati setelah sedikit tenang, aku makan otak2 sembari menunggu Reza pulang. setiap suara yang kudengar malam itu menjadi sebuah rasa ancaman

sampai akhirnya kudengar pintu depan dibuka, ada suara langkah kaki mendekati kamar.. pintu kamar tiba2 dibuka tapi tidak bisa karena kukunci.. “Mas, mas? kamu tidur ya? kenapa dikunci?” ALHAMDULILLAH YA ALLAH, REZA PULANG

segera aku turun dari kasur dan membuka pintu “kenapa dikunci mas pintunya? tumben?” “gapapa Za, dah masuk kamar dulu nanti aku ceritain”

aku menceritakan semua kejadian yang terjadi ke Reza “hah beneran Mas? tuhkan dari awal aku ngerasa aneh sama kosan!” “ya Aku juga sama, tapi ya gimana, ini yang paling enak sama murah kosannya dibanding yang lain2. yang lainnya gak masuk budget”

“Yaudah, semoga nanti segera ada orang lain ya yang pindah ke kosan, biar agak rame” kata Reza hari-hari berlalu tanpa ada gangguan yang berarti gangguan kecil spt suara pintu kamar yang digaruk, suara soang di jam 1-3 pagi, dan perasaan seakan2 kami tidak sendiri sudah biasa

sampai pada suatu malam.. “Mas, laper gak?” “laper sih, mau beli apa?” “Masih ada otak2 sih di kulkas, aku goreng deh, sekalian buat temen kamu lembur” “yawis, ini kerjaanku juga bentar lagi kelar sih”

belum ada 5 menit reza keluar kamar, tiba2 pintu kamar dibuka dengan tergesa dan reza membanting pintu kamar.. “Anjer! bikin kaget aja, kenapa sih? cepet amat? mana otak2 nya?” “Mas temenin goreng otak2, dapur wangi banget mas” “wangi? wangi otak2 kali!”

“Bukan mas! wangi bunga sumpah!! ayok buruan temenin trus cium aja sendiri wangi nya! wangi bunganya tuh cuma di pintu dapur!!” “Yawis, yok goreng otak2 tak temenin” kamipun berjalan ke arah dapur, dan benar saja… aroma bunga melati/sedap malam/mawar tercium di pintu dapur

dan anehnya, sesaat sebelum dan sesaat sesudah melewati pintu dapur, aroma bunga itu hilang.. “iya jak, wangi.. wangi bunga.. dah buruan goreng trus balik kamar trus kita tidur!!”

kami segera kembali ke kamar dan memutuskan untuk tidak kembali ke dapur malam itu..

suatu hari, Reza tiba2 mengusulkan untuk mengajak teman2 kerjanya datang ke kosan untuk masak dan makan bersama aku menyetujui saran itu, paling tidak suasana kos kami tidak terlalu sepi

kemudian, di hari Sabtu datanglah 3 teman Reza Risa, Tiara dan satu lagi aku lupa namanya kami masak seblak dan makan bersama sore itu

“wah, kosannya luas ya! enak banget! ini beneran cuma kalian berdua doang yang ngekos di sini?” tanya Risa “iya, kita berdua doang, sinilah kalian pindah biar rame kosannya hahaha” “tapi agak serem ya, banyak lukisan2, trus di depan kamar mandi ada lukisan penari bali”

jujur, ketika keluar kamar mandipun aku merasa lukisan ini matanya seakan bergerak2, tapi aku selalu sugesti “HANYA PERASAANKU SAJA” sampai akhirnya…

2-3 hari setelah kami makan bersama, Reza tiba2 whatsapp aku “Mas, Tiara setelah pulang dari kos kita katanya rumah tantenya sering bau busuk, trus kipas angin blower yang gede itu sering jatuh” …………. “coba mintain dia foto Jak, daerah mana yang bau”

setelah aku menerima foto dari Tiara melalui Reza.. “Jak, pocong kosan kita ngikut ke Tiara..” “HAH BENERAN MAS? TRUS GIMANA??” “Suruh tiara Baca Al Fatihah, Ayat Kursi, Al Falaq, Al Ikhlas, An Nas, masing2 7x setelah solat, kalau bisa orang satu rumah ya”

“Oke mas udah aku sampein ke Tiara, moga2 gak kenapa2 ya mas” “Iya.. duh jadi gak enak aku Ja sama Tiara.. takutnya dia gak mau ke kos kita lagi buat main..”

untungnya, Tiara dan teman2 Reza masih terus kembali ke kos kami untuk berkumpul, masak2, apapun itu sampai kos kami ini jadi semacam basecamp karena luas dan ya cuma kami berdua oenghuninya, jadi bebas..

suatu weekend, aku dan Reza punya rencana untuk pergi ke puncak bogor, bareng sama temen2 SMA nya Reza Sabtu pagi kami jalan dan Minggu sore kami pulang ke Jakarta.. Kami harus mengantarkan beberapa teman dulu sebelum akhirnya ke kos kami

Jam menunjukan pukul 22.30 malam, di mobil saat itu tinggal Eka, Fiqul, Puput, aku dan Reza sesampainya di kos kami, mereka kami ajak untuk turun sejenak dan melihat2 kosan kami “anjir luas banget yak kosannya, ini beneran cuma kalian berdua yang ngekos?” kata fiqul

“iya qul, aku sama Reja doang yang ngekos di sini” “Jak, kamar mandi di mana? numpang pipis dong, aku gak sanggup kalau harus nahan pipis sampe bekasi” “itu put kamar mandi di belakang, di halaman belakang, tapi pilih kaamar mandi yang paling belakang ya, soalnya lebih terang”

“Qul, temenin dong, aku gak berani pipis sendirian” “yaudah aku tungguin di luar ya” Fiqul dan puput berjalan ke halaman belakang, sedangkan aku dan Reza masih sibuk mengemasi barang2 kami, Eka sedang merokok untuk melepas penat karena masih harus lanjut menyetir sampai bekasi

“HAH?? KENAPA MANGGIL QULL? BENTAR AKU MASIH PIPIIS” “HAH KENAPA PUT? ORANG AKU GAK MANGGIL!” “BOHONG, YANG CEWEK KA DI SINI CUMA AKU SAMA KAMU, ORANG BARUSAN AKU DENGER KAMU MANGGIL KOK!!” teriak puput dari kamar mandi

“ENGGAK YE SUMPAH ORANG AKU MAINAN HAPE!” puput keluar dari kamar mandi lalu.. “sumpah Qul? kamu gak manggil?” “Iya sumpah beneran! orang aku dari tadi mainan HP”

“Duh, udah capek kali ya aku, yaudah lah yuk buruan balik, udah malem juga” akhirnya jam 23.00 Eka, Fiqul dan Puput melanjutkan perjalanan ke Bekasi

2 hari berlalu, kemudian grup berisi kami yang pergi ke Puncak ramai aku buka dan kucoba baca perlahan

“gaes, aku kemarin senin ngalamin kejadian aneh banget sumpah, bangun tidur tuh tiba2 rambutku udah dikuncir dan dikuncirnya tuh bukan di bagian belakang, tapi bagian ubun2 gitu..” “trus pas aku tanya orang rumah, katanya gak ada yang nguncirin rambutku dan..”

“…kuncir rambutnya tuh… bukan punya orang rumahku, satu rumah bilang itu bukan kuncir mereka..” “habis itu aku muntah2 aku kira masuk angin, trus sama Papa Mamaku aku dibawa ke kiai, katanya aku ketempelan Pocong…”

“Trus gimana put??” “udah kok, udah diruqyah, emang kosan kalian ada pocong nya ya pil? Jak?” “iya, ada, yang lihat mas dimpil dan beberapa kali temen2ku main, ada yang ketempelan juga ngikut ke rumah mereka…” “ANJIR LAH KENAPA GAK BILANG!! TAU GITU KITA GAK MAMPIR!”

“Ya kalau kita cerita, ntar kalian gak mampir, makanya kita gak ceritaa….” kataku “trus berarti pas aku di kamar mandi trus ada yang manggil tuh, aku gak ngelindur ya? beneran ada yang manggil berarti ya?” “iya mungkin put, penunggu yang lain..”

akhirnya, cerita tentang angkernya kos kamipun mulai menyebar ke teman2 kami.. tapi itu tidak menghalangi teman2 kami datang ke kosan karena ya memang cuma kosan kami yang bisa dijadikan basecamp..

di momen lain, aku sedang lembur dan Reza ke ruang tamu untuk videocall dengan teman2 SMA nya sampai tiba2 Reza lari ke kamar dan langsung membanting pintu kamar.. “KENAPA SIH! BIKIN KAGET AJA!!” “TADI ADA YANG LEWAT DI BELAKANGKU PAS AKU VIDEOCALL AN RAME2”

“Hah? Mas Tri? tapi aku gak denger suara langkah kaki sih” “Bukan!! orang bayangan putih gitu, anak2 yang lihat dari layar HP mereka!” “lah anjir, kok muncul lagi sih tiba2…” “YA GAK TAU!”

guys, maaf intermezo, tapi dari tadi aku tiba2 denger suara lonceng dari luar kamar kosku yang sekarang mana hujan deres ya Allah monangis 😭😭

oke lanjut.. sampai akhirnya, Reza dipindah bagian dan dapat shift kerja malam dari jam 8 malam sampai 8 pagi Ya Allah cobaan apalagi ini fikirku..

memasuki masa Pandemi dan ditengah2 ketidak jelasan status kosan kami, Nenek yang selalu bersih2 kos tiba2 tidak datang berhari2 bahkan berminggu2.. bahkan mas Tri tiba2 pamit mau pulang kampung karena bengkel tempat dia bekerja libur..

akhirnya, kalau salah satu dari kami gak di kosan, kami benar2 sendirian di kos ini.. dan menjelang lebaran, masih masa pandemi, ibuku menyuruh aku untuk pulang ke rumah bekasi, dan di sini aku mau minta maaf ke @fahrejerk_ karena sudah meninggalkan dia di kosan itu sendirian :”

sampai yang terakhir kali adalah seperti biaasa kami mengadakan acara BBQ di kosan kami bersama 12 rekan kerja Reza.. kami bakar2an di halaman belakang dan tertawa2 malam itu sampe akhirnya ada salah satu teman kami, namanya Rosma, sompral..

“Eh katanya kalau main ke Kosnya dimpil sama reja bakalan ditempelin pocong yakk??” Sontak kami semua yang ada disitu langsung mengucap “Astaghfirullahaladzim, Ngawur banget sumpah Rosma ngomongnya!!”

“Ros, sumpah ya kalau kenapa2 aku gak tanggung jawab..” kataku “iya2 enggak, semoga gak kenapa2 deh..” kami lanjut bebakaran dan jam 8 semua teman2 kamj pulang..

besoknya, sepulang kerja, Reza langsung cerita “Mas, si Rosma Chat tadi siang, katanya habis dari kos kita, dia malemnya mimpi dikejar2 pocong” …………… “masih mending gak sih cuma mimpi, bukan kayak yang lain, padahal dia sompral banget”

akhirnya, setelah 1,5 tahun kami memutuskan untuk pindah kos yang meyakinkan kami untuk pergi dari kos itu adalah aku bertengkar dengan Bapak Kos karena AC bocor, trus disuruh nyari tukang sendiri nanti katanya diganti, eh begitu aku bilang habis 800, cuma diganti 300rb

masih banyak pertanyaan2 yang ada di kepala setelah kami meninggalkan kos itu untuk apa bunga setaman yang setiap hari diganti? di ruang tamu dan di dapur? untuk apa lukisan2 yang dipajang dan selalu terasa bergerak seolah2 memperhatikan kami?

dan untuk apa kamar di tengah2 kebun yang tidak pernah dihuni? tapj kami memilih tidak ambil pusing, biarkan itu tetap jadi misteri, karena kami tidak ingin mengganggu mereka yang berbagi alam dengan kami..

sekian, kisah ini saya akhiri, setelah 1 tahun lebih kami meninggalkan kos itu, baru malam ini saya memutuskan untuk berbagi kisah ini dengan teman2 semua semoga menjadi pembelajaran bahwa kita hidup berbagi alam dengan makhluk2 lain ciptaan Allah selamat malam adimpil

ternyata ada temen yang pernah main dan masih nyimpen foto suasana kosan.. ini foto penari bali yang ada di halaman belakang di depan kamar mandi persiis

btw ternyata pernah nge insta story main sama anabul di ruang tengah kosannya kira2 suasananya kayak gini, trus itu pintu yang didatengin anabul ku di detik2 terakhir video itu pintu kamarku

yang tanya kenapa gak pindah2 dari kos itu ya karena sebenernya kosnya enak2 aja dan murah (karena kepepet kondisi ekonomi waktu itu) trus kosan juga cuma berdua doang satu rumah, jadi kayak berasa ngekos satu rumah gitu

tapi sekarang alhamdulillah sudah dapat kerjaan dengan gaji yang jauh lebih baik dan sudah pindah kosan jugaa, jadi ya begitu

ini Fiqul yang dicerita gaes

oiya, tambahan, aku sama reza tuh sering banget grabfood/gofood malem2 kalau males keluar, trus sering banget drivernya bingung nyari kosan kita, pas ketemu ngomongnya: “waduh mas, gak keliatan kalau ada rumah di sini soalnya” padahal di notes udah jelas lokasi sama no rumahnya

tambahan



Follow us on Twitter

to be informed of the latest developments and updates!


You can easily use to @tivitikothread bot for create more readable thread!
Donate 💲

You can keep this app free of charge by supporting 😊

for server charges...