Remotivi

Remotivi

28-05-2019

09:42

KESALAHAN MEDIA KETIKA MENULIS BERITA KEKERASAN SEKSUAL == A THREAD ==

1. Menggiring pembaca untuk menghakimi penyintas, misal dalam kasus artis sebagai pekerja seks.

2. Menggiring pembaca untuk memaklumi/menganggap wajar perbuatan pelaku, misal menggunakan diksi “pelaku khilaf”, “tidak kuat menahan nafsu”, “terpaksa nekat”, “sudah lama tidak berhubungan intim”, dll.

3. Menempatkan pihak ketiga yang bersalah, misal dengan menyebut “entah setan apa yang merasuki pria itu”, “gara-gara bokep”, dll.

4. Memosisikan penyintas sebagai pemicu terjadinya kekerasan seksual dengan mengangkat narasi soal pakaian seksi, janda muda, perempuan keluar malam, genit, dan saat penyintas sedang sendiri baik itu di jalan, di angkot, maupun di rumah.

5. Mengeksploitasi identitas penyintas seperti nama, alamat, pekerjaan, usia, akun media sosial, hingga foto diri.

6. Pemberitaan tidak akurat yang memberi kesan bahwa penyintas membuat laporan palsu. Misal, “Polisi memamerkan barang bukti berupa kondom terkait kasus dugaan pemerkosaan XY terhadap pacarnya sendiri”.

7. Membuat kesan seolah penyintas turut mengizinkan pelaku, misal menggunakan kata-kata seperti “pasrah”, “diam saja”, dll.

8. Menggunakan ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan kasar, disebut dengan istilah “eufimisme”. Misal, “skandal seks X dan Y”, “pria ini menggagahi/meniduri/menodai”, “menggesek-gesek alat kelamin”, “berhubungan badan/melakukan hubungan suami istri”, dll.

9. Menggunakan nama samaran seperti “Bunga”, “Mawar”, “Melati” yang membuat kesan bahwa penyintas adalah objek feminim, indah, dan rapuh.

Apakah kamu setuju dengan poin-poin ini? Beri tanggapanmu di bawah, ya.


Follow us on Twitter

to be informed of the latest developments and updates!


You can easily use to @tivitikothread bot for create more readable thread!
Donate 💲

You can keep this app free of charge by supporting 😊

for server charges...