Geger Riyanto

Geger Riyanto

14-10-2022

22:44

Saya tidak heran kalau pertanyaan tentang identitas agama adalah pertanyaan yang biasa saja bagi sebagian orang. “Ya sudah, jawab saja agamamu apa. Apa susahnya.” Saya merujuk ke tanggapan yang muncul terhadap ungkapan Farel terkait agamanya.

Reaksi ini bisa dipahami. Pertanyaan itu pasalnya memang tidak akan berdampak apa pun bagi sebagian orang setelah dijawab. Rasa penasaran si penanya tuntas dan hidup lanjut berjalan tanpa ada yang berubah.

Tapi dampak pertanyaan ini tak bisa dikatakan sama untuk minoritas. Mereka yang selama ini dipaparkan dengan citra-citra menakutkan apa yang terjadi pada minoritas di tempat-tempat lain: diusir, ditolak, dihindari, dilihat seakan objek yang najis.

Pada saat terburuk yakni ketika unjuk rasa terhadap Ahok lagi panas-panasnya, citra itu bahkan lebih menakutkan lagi: diancam dibunuh.

Saya mendapat pertanyaan tentang identitas agama ketika ada di Jerman. Saya menjawab dengan enteng karena itu tidak berdampak apa pun buat saya. Teman ngobrol saya hanya akan mencari aspek yang menarik untuk diobrolkan lebih lanjut terkait identitas itu.

Tapi bila saya mendapat pertanyaan itu di Indonesia, sederet kekhawatiran akan kontan mencuat. “Apa yang akan terjadi bila saya menjawab ini dengan jujur?” “Apakah saya tetap akan diterima?” “Apakah mereka akan menjauh?” “Apakah saya akan dibedakan?”

Orang-orang mungkin akan bilang kekhawatiran ini tak berdasar. Sebagian lagi mungkin bakal bilang dia muncul dari liputan media yang menyudutkan mayoritas. Tapi ada fakta yang berbicara lain.

Dalam penelitian doktoralnya, Cahyo Pamungkas menggelar survei untuk mendalami fenomena penghindaran kontak antaragama di dua kota, Yogyakarta dan Ambon. Hasilnya? Saya kutipkan saja langsung dari sari pati disertasinya:

"[M]any Muslim respondents are reluctant to have Christians as their board mates and close friends." “The survey results … show that most Muslim respondents in both Yogyakarta and Ambon do not want to live in a neighbourhood inhabited by people from other religions."

Mungkin beberapa orang sudah tahu, saya melakukan penelitian jangka panjang di Seram. Saya tinggal di kampung Muslim. Keluarga angkat saya Muslim.

Saya melihat dari dekat bagaimana orang Kristen sehari-hari dibicarakan sebagai sesuatu yang berbahaya. Warga kampung takut dengan orang Kristen dan menganggap mereka sumber berbagai malapetaka—dari penculik anak hingga penebar fitnah.

Persepsi ini bukan cuma dipupuk ketakutan terhadap perbedaan tapi juga konflik Ambon yang mengerikan.

Beberapa kali saya ditanyakan identitas agama oleh keluarga angkat saya. Saya selalu jawab dengan jujur. Saya cemas ketika menjawabnya, tapi saya harus jujur. Mereka berhak untuk tahu siapa yang tinggal di rumahnya dan mereka urus dengan kepedulian luar biasa.

Mereka tak pernah mengubah penerimaannya terhadap saya terlepas jawaban saya. Tapi, ada yang menarik: segamblang apa pun saya berusaha menjawab pertanyaan ini, mereka selalu kesulitan mengidentifikasi saya sebagai Kristen.

Tujuh tahun selepas perkenalan pertama kami, adik angkat saya mengidentifikasi saya sebagai Hindu. Dalam percakapan setelah memastikan agama saya, adik angkat saya yang lebih tua sempat bertanya lebih jauh. “Mas, itu Kristen ada macam-macam kan ya? Ada yang seperti Islam juga?”

Saya tak tahu persis, tapi apa yang terjadi seakan mereka berusaha tidak mengategorikan saya Kristen karena tak ingin kedekatan kami berubah.

Saya paham kalau buat sebagian orang pertanyaan tentang agama tak berdampak apa-apa. Tapi buat sebagian lain yang enggan menjawab pertanyaan ini, ini adalah pertanyaan yang mereka takutkan akan berdampak banyak buat kehidupan mereka. Jawabannya adalah pertaruhan.

Mungkin pengalaman ini adalah gambaran dari bagaimana privilese bekerja: privilese tidak terasa ketika dimiliki tapi sangat terasa ketika tidak dimiliki. Ia seperti udara.

Dan mungkin itu sebabnya mereka yang punya privilese akan mengatakan hal-hal konyol yang menyakitkan mereka yang tak memilikinya: menampik adanya pembedaan baik itu berbasis agama, gender, etnis, serta kategori-kategori lain.

Terakhir, mau tahu kenapa satu bait puisi Joko Pinurbo yang dimulai dengan “apa agamamu” itu menyentuh banyak orang? Karena kami berharap, kami benar-benar bisa menjawab demikian ketika pertanyaan itu benar-benar datang.

Apa agamamu? Agamaku adalah air yang menghapuskan pertanyaanmu


Follow us on Twitter

to be informed of the latest developments and updates!


You can easily use to @tivitikothread bot for create more readable thread!
Donate 💲

You can keep this app free of charge by supporting 😊

for server charges...