mwv.mystic

mwv.mystic

30-11-2021

07:08

KETUKAN DARI KORBAN TERLINDAS KERETA a thread

Cerita akan dimulai malam ini, jam 20.00 wib, berbarengan dengan di Instagram. Silahkan like atau bookmark dulu agar nanti malam tidak ketinggalan yaa

Assalamualaikum pembaca mwv.mystic semua, perkenalkan aku Putri, sekarang aku sudah berkeluarga dan tinggal di salah satu kota di Pulau Jawa. Cerita yang akan kubagikan kali ini, adalah kisahku saat masih tinggal dengan orang tuaku dulu di awal awal tahun 2000an.

Sebelumnya mohon maaf aku tidak bisa menjelaskan secara jelas mengenai lokasi dan beberapa detail cerita. Aku berasal dari keluarga sederhana yang terdiri dari aku, kak Rendi, Bapak, dan Ibu. Aku memiliki rumah yang berada tepat di tepian rel kereta api.

Rumahku sewaktu kecil ini bertingkat dua, lantai satu adalah ruang tengah, dapur, wc serta kamarku dan orang tua. Sedangkan di lantai dua ada kamar kak Rendi, dan sebuah balkon luas terbuka untuk jemuran dan torren air.

Jemuran ini menghadap langsung ke arah rel kereta tanpa ada penghalang apapun. Bapak juga sengaja membiarkan sisi belakang rumah tidak di cat dan hanya berbentuk coran kasar.

Selain itu ada satu pintu belakang yang jika dibuka langsung ke tepian rel, biasanya ibu gunakan untuk membuang sampah atau debu sisa menyapu rumah.

Rumah kami memang memunggungi rel karena jalan desa yang melebar dan tidak mengikuti jalur rel, jadi di tempat tinggalku, sebagian rumah menghadap rel karena jalan desa ada di depannya, sebagian lagi termasuk rumahku menghadap jalan tapi memunggungi rel.

Kembali ke keseharianku, saat itu aku baru kelas 4 SD dan termasuk anak yang malas bergaul. Aku lebih memilih berada di dalam rumah, entah itu menonton, bermain bonekaku, atau tidur siang ketimbang bermain keluar dengan yang lain.

Hal ini juga yang membuatku tidak mengenal begitu banyak tetanggaku kecuali hanya beberapa saja. Berbeda dengan kak Rendi yang saat itu sudah sekolah di jenjang SMP, ia sangat dikenal oleh orang orang sekitar karena orangnya yang humoris dan mudah bergaul.

Sementara ibu dari siang hingga maghrib berjualan minuman ringan di depan rumah, pembelinya tentu saja anak anak kecil pinggiran rel dan beberapa tetangga lain. Ibu yang aku kenal adalah seorang yang paling alim di keluarga kami.

Kalau tidak ada pembeli, ibu biasa membaca quran dan di malam hari sering sholat tahajjud. Sedangkan bapak bekerja sebagai tukang yang berangkat pagi dan pulang hampir jelang tengah malam, bapak tidak begitu kental dengan agama, namun bapak tetaplah kepala keluarga yg baik.

Tinggal di pinggiran rel kereta membuat keluarga kami juga terbiasa dengan suara kereta yang lewat rutin setiap harinya. Namun, tantangan lain ketika kami memilih tinggal di pinggiran rel adalah faktor keamanan dan hal lain yang diluar dugaan kami sebelumnya, yaitu hal mistis.

Rel di belakang rumahku sebenarnya lurus, tidak berbentuk S sebagaimana biasanya lokasi rawan kecelakaan terjadi. Hanya saja, sejak aku tinggal disana terhitung sudah beberapa kali rel tersebut memakan korban.

Mulai dari pengendara sepeda motor yang nekat menerobos palang sederhana yang dibuat warga, atau orang gangguan jiwa yang tersambar saat sedang berjalan sendirian di tepian rel.

Saat kedua kejadian itu terjadi, aku belum cukup umur untuk melihat kejadiannya dan ibu menyuruhku untuk tetap di dalam rumah saja. Seingatku waktu itu aku masih TK atau kelas 1 SD, dan akupun belum begitu mengerti tentang kematian.

Trauma pertama sekaligus awal mula kisah mengerikan ini terjadi saat aku untuk pertama kalinya mengetahui tentang kasus kematian yang terjadi di rel kereta dekat rumahku.

Hari itu, aku ingat sekali Minggu pagi, aku masih sibuk dengan agenda menonton kartun minggu di salah satu stasiun televisi. Tiba tiba saja aku mendegar dari arah pintu belakang yang menghadap rel, ada suara orang orang yang kuperkirakan masih remaja berteriak

“Woi Woi Woi Itu datang! Buruan Buruan Buruan!! Wooiii” sumber suara itu berasal dari beberapa orang.

Lalu tak lama tanah mulai bergetar dan sirine panjang kereta berbunyi tanda kereta lewat. Setelah suara kereta berlalu, hanya sepersekian detik kemudian aku mendengar suara jeritan bu Sum, tetanggaku yang berada 3 rumah disampingku.

Lalu aku juga mendengar suara riuh dari beberapa orang yang bergumam dan beberapa lagi berteriak. Bapak yang sedang membaca koran spontan berdiri dan keluar rumah menghampiri sumber suara. Ibu juga keluar dari dapur dan juga keluar, namun ibu hanya sampai ambang pintu.

Sementara aku tidak bergitu tertarik untuk keluar karena tontonanku sedang seru serunya. Tak sampai semenit, bapak kembali dengan wajah pucat dan keringat di dahinya. “Ada apa pak?..” tanya ibu.

“Ada korban kelindes kereta lagi bu.. kepotong tiga...” kata bapak pelan sambil bergegas membasuh muka ke dalam kamar mandi.

Bapak sepertinya trauma dan wajahnya pucat seperti orang mual. Namun bapak lalu memasang bajunya, iya, bapak daritadi bertelanjang dada dan hanya memakai sarung saja, bapak pulang untuk mencuci muka dan memasang bajunya, lalu kembali keluar.

Ibu yang sepertinya juga penasaran akhirnya ikut bapak. Di rumah akhirnya hanya ada aku dan Kak Rendi di dalam kamarnya. Banyak orang orang melewati depan rumahku tanpa henti dari para orang tua hingga anak anak, sepertinya untuk melihat lokasi kejadian.

Akhirnya, akupun penasaran untuk ikut melihat keluar. Saat aku keluar rumah, sudah ramai orang orang berkerumun di tepian rel kereta sambil melihat ke arah salah satu spot di tengah tengah rel.

Aku coba menyelinap diantara sela sela orang sampai akhirnya aku bisa dapat spot tepat di tanggul tepian rel kereta, ada beberapa anak kecil juga yang bersama denganku waktu itu.

Saat itu untuk pertama kalinya aku melihat mayat yang kondisinya sudah rusak. Seperti kata bapak, tubuhnya terbagi tiga.. dada ke kepala, badan hingga panggul, dan paha hingga kaki. Posisi ketiga potongan itu juga sudah berjauhan.

Posisi kepala berada di sisi paling kanan jalur, badan yang hancur dengan isi perut yang terpencar pencar di tengah, dan bagian kaki di tak jauh dari dari badan. Itu berarti kepala dan sebagian badan sempat terbawa kereta karena posisinya lebih jauh sesuai arah jalan kereta.

Walaupun dari posisi yang tidak begitu dekat, aku bisa melihat daging segar dan darah yang tersebar di sekitaran TKP. Aku juga bisa melihat rambut korban, karena saat itu memang warga belum menutup jasad tersebut dengan sempurna.

Jujur saat itu aku belum merasakan apapun, padahal itu jasad tak utuh pertama yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku hanya menatapinya dengan tatapan kosong ditengah hiruk pikuk warga lain yang juga menonton.

Lamunanku buyar setelah sirine ambulans dan polisi berbunyi, aku akhirnya “diusir” oleh warga lain. “Eh anak kecil ngapain disini? Pulang! Pulang!”

Akupun kembali ke rumah. Bapak dan ibu belum kembali saat itu. Akhirnya aku memutuskan ke atas, ke kamar kak Rendi. Diatas, kak Rendi ternyata sedang menonton evakuasi korban itu juga dari balkon jemuran rumah kami.

“keliatan darisini kak?” tanyaku sambil berjalan mendekat. “keliatan banget” jawab kak Rendi tanpa menoleh ke arahku. Aku pun berdiri tepat di samping kak Rendi. Dan memang, dari balkon ini aku bisa melihat ke lokasi kejadian.

Saat itu polisi sepertinya sedang mengambil data, mereka terlihat memfoto foto korban dan lokasi sekitar. Tak lama, potongan potongan tubuh itu dimasukkan ke dalam karung jenazah dan dibawa pergi.

Setelah polisi pergi, beberapa warga berinisiatif menyiramkan air ke lokasi lokasi yang terkena cipratan dan genangan darah. Belakangan aku ketahui juga ada beberapa warga yang masih menemukan potongan daging, ceceran otak bahkan kulit manusia di lokasi itu.

Sudah beberapa jam berlalu sejak jasad dibawa oleh ambulance dan lokasi kejadian dibersihkan warga, namun, bau anyir darah belum juga hilang dan malah semakin kuat.

Malamnya, selepas maghrib seperti biasa aku ada jadwal pengajian di salah satu mushola yang posisinya ada di kampung seberang rel. Dan untuk mencapai mushola itu, aku biasa menyusuri tanggul di tepian rel.

Jangan bayangkan aktivitas rel ini se padat jadwal krl di Jakarta dan dengan pagar tinggi pemisah antara perkampungan ya. Antara rel dengan jalan warga hanya dibatasi sebuah tanggul setinggi kurang lebih 1 meter, dengan posisi rel lebih tinggi dari jalan umum.

Aku sudah terbiasa menyusuri tanggul ini untuk berjalan ke mushola di seberang. Selain aksesnya lebih mudah karena tidak perlu menyusuri gang rumah warga yang berkelok kelok, menyusuri tanggul ini juga lebih singkat karena posisi mesjid memang juga berada di tepian rel.

Sore itu, saat langit sudah senja dan penduduk yang tadi melihat kejadian sudah bubar, aku bersama salah satu tetanggaku berangkat dengan membawa perlengkapan ngaji dan sebuah senter.

Kamipun berdua menyusuri tanggul itu yang mengarah ke lokasi kejadian tadi pagi seperti biasa. Walaupun jujur aroma darah masih sangat tercium disana. Aku belum menyalakan senter karena hari masih cukup terang.

Hingga di suatu spot, aku melihat ada lalat yang berkerubung dan semut semut merah yang menggerogoti suatu benda. Kukira awalnya itu bangkai anjing, kucing atau tikus, kami berdua menutup hidung saat melewatinya kalau kalau itu bangkai yang sudah mengembung..

namun ketika kami lewat, aku menyenteri objek itu dan sadar itu adalah onggokan daging dengan kulit yang masih menempel… tidak ada kepala hewan atau bulu bulu apapun. Itu hanya daging merah yang dikerubungi semut..

Aku berlari kecil sambil menarik tangan teman ngajiku. Entah kenapa aku tidak terbesit untuk melapor ke orang lain dan tetap fokus berjalan agar tidak terlambat ke pengajian.

Sepulang dari pengajian usai sholat Isya, aku melewati jalan yang sama. Namun kali ini ada beberapa warga dengan senternya tengah menyisir sekitar jalur rel tadi. Memang penerangan disini kala itu masih sangat kurang di sepanjang rel.

Sumber lampu hanya ada dari teras rumah warga saja dan lampu di jalur penyebrangan tradisional dengan palang dari kayu. Curi curi dengar dari warga, katanya ada yang menemukan onggokan daging tercecer disana dan akhirnya warga menyisir ulang lokasi tersebut.

Beberapa waktu sejak kejadian itu berlalu, di lingkungan rumahku mulai tersiar kabar desas desus sosok asing yang sering berlalu lalang di sepanjang rel kereta lokasi kejadian.

Beberapa orang mengaku melihat bayangan hitam yang mondar mandir di rel tersebut pada malam hari, namun ketika disenter, sosok itu lenyap begitu saja. Hal ini membuat banyak orang tua khawatir dan melarang anaknya melewati jalur kereta itu di malam hari, termasuk ibuku.

Ibu sebenarnya bukan takut sosok itu adalah hantu, Ibu justru takut jika itu adalah orang mabuk atau orang gangguan jiwa yang bisa membahayakanku.

Namun nyatanya teror itu semakin menjadi jadi. Kehebohan kembali terjadi saat salah satu tetanggaku mengaku pada malam hari pintunya menghadap ke rel kereta digedor gedor dengan sangat keras pada dini hari..

dan berdasarkan ceritanya, ketika ia melihat dari balik jendela, ada sosok manusia dengan muka rusak dan mengalirkan darah kehitaman sedang membentur benturkan kepalanya ke pintu rumah itu...

Sejak itu juga, teror ketukan pintu tersebar dan diamini banyak orang yang mengaku rumahnya mengalami hal serupa.

Bapak dan ibu sepertinya juga khawatir sampai sampai berpesan kepada kami aku dan kak Rendi “Kalau nanti ada yang ngetuk pintu, panggil bapak atau ibu dulu ya” ujar Bapak kepada kami.

Sayangnya, saat itu bapak dan ibu tidak menjelaskan lebih lanjut alasan kenapa kami tidak diperkenankan membuka pintu sendirian. Termasuk alasan alasan diluar nalar yang untuk ukuran umurku saat itu masih sulit untuk aku pahami.

Hingga suatu ketika, aku lupa hari keberapa setelah kejadian, aku dan kak Rendi ditinggal oleh ibu dan bapak yang pergi ke acara pengajian yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Bapak sedang tidak bekerja proyek jadi bisa menemani ibu malam itu.

Sebenarnya aku dan kak Rendi sudah diajak, namun karena aku punya pr yg harus kukumpulkan besok, dan kak Rendi sedang malas untuk keluar, akhirnya kami berdua memutuskan tetap di rumah, dengan janji bahwa kami tidak akan kelayapan di malam hari atau meninggalkan satu sama lain.

Atas perintah ibu, kak Rendi juga tidak berkegiatan di kamarnya. Dia disuruh untuk tidur tiduran di bawah sambil menemaniku mengerjakan pr. Kami berdua berada di ruangan tengah, kak rendi selonjoran menonton tv, sedangkan aku disampingnya menulis prku diatas meja lipat.

Sampai tiba tiba.. “tok tok tok…” Sayup sayup terdengar suara ketukan. Aku pada awalnya tidak menyadarinya, tapi kak Rendi saat itu langsung menoleh ke arahku, seakan bertanya “kamu dengar juga gak?”

Karena kak Rendi menoleh tanpa mengatakan apapun, aku hanya bertanya “kenapa kak?” tanyaku “ah engga, masih banyak prnya dek?” tanya kak Rendi. “masih, nyalin ini semua” kataku sambil membolak balikkan halaman buku pelajaran yang harus kusalin.

Namun, baru saja akan melanjutkan tulisanku.. “tok! tok! tok! tok!” suara ketukan kembali terdengar. Kali ini aku yang menoleh kepada kak Rendi dan disaat yang bersamaan kak Rendi mengangguk pelan, seperti tau aku akan bertanya tentang suara itu.

Kak Rendi lalu mengambil remote tv dan mengecilkan suaranya. Aku berhenti menulis dan mulai was was. Kami memasang telinga dalam dalam, berharap suara tadi berasal dari tetangga atau hanya perasaan kami saja..

“Tok! Tok! Tok!” Serentak kami menoleh ke arah sumber suara.. Dan kami sadar ketukan itu berasal dari pintu belakang yang menghadap rel kereta api! Kak Rendi terdiam, begitupun aku. Selama ini tidak ada orang yang bertamu lewat pintu belakang!

Suasana semakin tidak enak karena hanya ada kami berdua di rumah saat itu. Entah keberanian dari mana, Kak Rendi bangun dari tikar sambil menaruh jari telunjuk di depan bibirnya, gestur untuk menyuruhku diam.

Dengan lambat, ia berjalan ke arah pintu belakang, memastikan engsel kunci yang menahan pintu itu terpasang sehingga apapun yang ada diluar sana tidak dapat masuk. Aku yang mulai dilanda kekhawatiran akhirnya juga berdiri dan mengikuti kak Rendi.

Kini, kami berdua sudah berdiri tepat di hadapan pintu belakang. Syukurlah, kunci engselnya terpasang dan kami rasa aman sekalipun kami berada dihadapannya. “TOK TOK TOK TOK TOK!!!!” tiba tiba saja ketukan dari arah luar semakin keras dan lebih banyak dari tadi.

Kami sempat mundur satu langkah karena kaget namun kembali maju setelah suara ketukan itu berhenti. Kak Rendi mendekatkan telinganya hingga menempel tepat ke pintu belakang.

Ketika itu juga ekspresi wajanya berubah seperti orang tercengang. “..cobha.. khamu denger shuaranyah..” kata Kak Rendi kepadaku dengan suara kecil.

Aku menempelkan teling kiriku dan yang aku dengarkan adalah suara orang yang sedang berkumur kumur.. atau lebih tepatnya seperti orang yang bergumam tapi ada air di dalam mulutnya..

“Kakak….” Mataku mulai berlinang karena ketakutan. Kami mundur menjauhi pintu. Siapapun, atau apapun yang mengetuk dibalik pintu itu tidak akan kami bukakan sama sekali!

Aku memeluk kak Rendi erat erat. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 21.30, ibu dan bapak belum juga pulang. Ketukan itu memang sudah berhenti, namun kami sama sekali belum berani keluar.

Jika ditanya kenapa tidak keluar saja dan pergi ke rumah tetangga, jawabannya adalah karena rumahku berada di sisi ujung. Rumah tetangga ada di sisi kiri rumahku, sementara sisi kanan kami kosong.

dan sesuatu di belakang yang tadi mengetuk ngetuk itu bisa kapan saja muncul di pintu depan setelah memutar sisi kanan rumah.. Kak Rendi lalu berjalan ke depan. Ia menyalakan volume tv dengan cukup keras untuk memecah kesunyian.

Ia lalu mengintip lewat jendela ruang tengah, berharap ada tetangga kami yang berada diluar rumah dan bisa memberikan kami bantuan. Sayang, suasana diluar dari jendela yang kak rendi lihat sudah sangat sepi dan lampu tetangga sudah mati.

Kak Rendi berbalik dengan wajah pasrah. “udah.. anggep aja gaada apa apa, kita tunggu bapak ibu pulang ya” Aku menggangguk pelan. “Pr mu udah selesai? Bikin dulu aja” perintah kak Rendi sambil berjalan ke arahku. Lalu tiba tiba saja..

“Tok tok tok tok” pintu depan yang berada tepat di belakang kak Rendi diketuk. Kak Rendi teridam, begitu juga aku yang baru saja akan memulai mengerjakan prku kembali.

“Nak.. Rendi, Putri, udah tidur kalian kah?..” ujar suara dari luar yang terdengar seperti ibu dari balik pintu itu. Aku sontak bangun dari dudukku dan hendak menyambut kedatangan ibu dan bapak. Tentu saja kedatangan keduanya adalah hal yang sudah aku nantikan dari tadi.

“ibu pulang kak” kataku dengan wajah lega sambil berjalan ke arah pintu. Namun kak Rendi menahan tanganku. Ia menggenggamnya erat sehingga aku tidak bisa lanjut berjalan ke arah pintu. Tanpa berbalik badan, kak Rendi menarik tanganku hingga aku kini berada di hadapannya.

Kak Rendi lalu membungkukan badannya dan berbisik pelan di telingaku.. “tunggu sebentar ya put.. gausah dibukain dulu pintunya..” kata Kak Rendi, membuatku bingung.

“tok tok tok tok tok!” suara ketukan itu semakin keras dan intens. Aku yang awalnya mengira itu ibu menjadi semakin ragu. Kenapa ibu mengetuk sekeras itu? “Rendiiii… Putriii…. Bukain pintunya nak…” ujar suara ibu dari arah luar.

“kenapa gak dibukain pintunya kak?..” tanyaku pada kak Rendi yang masih berdiri kaku dihadapanku sambil memeluk kepalaku. “…..” “kakak?” tanyaku lagi.

“gausah dengerin suara itu dek… ibu dan bapak bawa kunci rumah sendiri. Kalau itu beneran ibu, pasti udah buka pintu sendiri pakai kunci yang ibu bawa..” kata kak Rendi sambil menunjuk sebuah paku yang berada di samping pintu kamar mandi.

Paku itu biasa kami gunakan untuk menggantung kunci cadangan pintu depan kalau anggota keluarga kami ada yg pulang larut dan biasa digunakan bapak.., dan saat itu, kunci cadangan itu tidak berada di paku tersebut..

TOK TOK TOK TOK! “RENNDBRLHH PUUBRLHH BBRLBHH GRRRLL” Ketukannya kini sudah seperti benturan keras dan disusul suara orang berkumur kumur seperti yang kami dengarkan di pintu belakang tadi.

“KAKAK!!!” aku ketakutan setengah mati dan langsung memeluk kak Rendi dengan sangat kuat. Aku tidak bisa menahan air mataku dan akhirnya menangis sejadi jadinya walaupun tanpa mengeluarkan suara.

Kak Rendi memelukku balik. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar, sepertinya dia menahan ketakutan dan tangisnya saat itu. Kami berpelukan selama hampir 5 menit sementara suara orang berkumur itu terus terdengar dari arah luar. Lalu setelahnya suara itu mengecil dan hilang.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke kak Rendi. Saat itu aku bisa melihat bekas air mata di matanya, tanda ia juga menangis. Kak Rendi lalu hendak melihat ke arah jendela, namun kini aku yang menahannya. “Gak usah kak..” kataku. Namun kak Rendi tetap melangkah ke arah pintu.

Beberapa langkah lagi sampai di pintu, tiba tiba terdengar suara lagi dari luar... “udah pada tidur belum ini anak anak? Lampunya kok pada ga di matiin” ujar suara yang kami kenal, bapak. “kayaknya udah. Ketiduran di ruang tengah kayanya” jawab suara menyerupai ibu.

Kak Rendi berhenti melangkah dan kaku di tempatnya berdiri. Namun kelegaan kami benar benar pecah saat suara kunci pintu yang dibuka dan ibu masuk sambil mengucapkan salam pelan..

“assalamualaikum.. eh kalian ngapain?” tanya ibu yang terheran melihat aku dan kak Rendi berdiri di ruang tengah, terlebih melihat muka sembabku yang baru saja selesai menangis. “Adek kenapa? Abis nangis? Kamu apain Ren?” tanya ibu sambil menghampiriku.

Aku menggeleng, lalu memeluk ibuku dan kembali menangis. Bapak kemudian menghampiri kak Rendi dan menanyakan apa yang sudah terjadi. Namun kak Rendi belum mau mengatakan apapun.

Seperti biasa, sepulang acara pengajian di luar, ibu selalu membawakan kami besek berisi nasi kotak. Aku memakannya dengan lahap, namun tidak dengan Kak Rendi. Ia terus diam dan hanya menyuap makanannya sedikit demi sedikit.

Melihat hal ini, bapak kembali bertanya kepada kak Rendi. “Kenapa Ren kok ga semangat gitu makannya?” “gapapa pak, kenyang” jawab kak Rendi singkat.

Setelah beberapa suapan, kak Rendi lalu bangkit dan izin tidur duluan di kamar atas. Sudah ngantuk katanya. Ibu dan bapak lalu mengizinkan, sementara aku melanjutkan makanku sampai tuntas.

Aku juga menahan untuk bercerita kejadian tadi kepada ibu dan bapak, karena aku khawatir keduanya tidak akan percaya dengan apa yg aku alami. Tapi entah kenapa, mungkin karena usiaku yg masih bocah, aku dengan mudah melupakan kejadian itu, dan belajar seperti semuanya normal.

Sekira jam 11 malam, aku baru tidur setelah menyelesaikan prku dibantu ibu. Aku dan kedua orang tuaku tidur di kamar yang sama di lantai satu. Ketika baru saja akan tidur, tiba tiba kami mendengar suara pintu dibanting dengan sangat keras di lantai dua dan suara benda jatuh.

Bapak refleks bangun dan naik ke tangga lantai dua sambil memanggil nama kak Rendi. “Rendi! Suara apa itu??” tanya bapak sambil menaiki tangga. …. Hening, kak Rendi tidak menjawab.

Bapak lalu naik ke atas diikuti aku dan ibu dari belakang. Kami mendapati kamar kak Rendi tertutup rapat. “Ren.. kamu kenapa? Suara apa tadi?” tanya bapak sambil mengetuk pintu. Namun sekali lagi gaada jawaban.

Ketika bapak mencoba membuka pintu, ternyata pintunya terkunci dari dalam. Aku lalu disuruh bapak naik ke bahunya, untuk melihat kak Rendi di dalam melalui ventilasi kecil di dekat langit langit.

Ketika aku mengintip disana, aku melihat kak Rendi sedang tengkurap di lantai tepat di depan pintu. “Pak, kak Rendi tiduran tengkurap di depan pintu” kataku. Melihat posisi kak Rendi tidak normal, bapak dengan spontan mencoba mendobrak pintu.

Sementara bapak yang panik mencoba mendobrak pintu. Ibu lebih bertindak logis dengan turun ke bawah mencari keberadaan kunci cadangan kamar kak Rendi. Usaha bapak berkali kali gagal untuk mendobrak pintu itu. Untunglah, ibu datang dengan kunci cadangan ditangannya.

Namun sekalipun pintu bisa dibuka, pintu itu tidak bisa terbuka penuh karena terganjal kepala kak Rendi di baliknya. Akhirnya bapak mendorong pelan pelan pintu itu dan setelah celah yang terbuka cukup untuk aku masuk, aku masuk ke kamar kakak dan menarik tubuhnya menjauhi pintu.

Ketika aku pegang tangan kak Rendi, tangannya terasa panas, dan badannya terasa sangat berat. Bapak kemudian masuk dan diikuti oleh ibu yang kelihatan panik dengan keadaan kak Rendi.

Ketika tubuhnya ditelentangkan, kak Rendi maaih belum sadar. Wajah dan bibirnya pucat bahkan membiru, tapi tubuhnya panas dan hidungnya mengeluarkan darah...

Sekilas info, kisah lengkap cerita ini sudah gw post di karyakarsa. Buat yang ga sabar nunggu perpart yang dicicil disini, bisa langsung download aja ebooknya disini yaa Thanks untuk supportnyaa

"BU CEPAT KE TETANGGA, PINJAM MOTOR!” kata bapak setengah berteriak kearah ibu yang langsung berlari turun. Tanpa pikir panjang, bapak langsung menggendong kak Rendi ke bawah menyusul ibu sambil terus memanggil manggil nama kak Rendi.

Beberapa menit kemudian, salah seorang tetangga kami datang dengan memboncengi ibu. Ibu turun dan bapak ganti menaiki motor tetangga kami itu lalu membawa kak Rendi ke klinik dokter 24 jam terdekat.

Di rumah, aku dan ibu menunggu dengan perasaan cemas. Khawatir terjadi apa apa pada kak Rendi. Ibu dan aku tidak tidur sampai jam 2 dini hari hingga tetangga kami yang tadi memboncengi bapak tadi pulang dan menyampaikan kabar bahwa-

- kak Rendi sudah sadar dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit daerah. Tetangga kami itupun menawarkan ibu dan aku untuk diantarkan ke lokasi tempat kak Rendi dirawat. Setelah mempersiapkan semuanya, aku dan ibu berangkat diboncengi tetangga kami.

Ketika sampai di rumah sakit, kak Rendi memang sudah sadar, namun fisiknya masih terlihat lemah dan bibirnya masih pucat. Bapak berada di sisi kak Rendi saat itu dan memegangi tangannya.

“Ren, gimana? Udah ngerasa baikan? Apa yang kamu rasa?” tanya ibu sambil membelai kepala kak Rendi. Kak Rendi hanya membalas pertanyaan ibu dengan anggukan kepala pelan. Kami tidak berbincang banyak saat itu dan membiarkan Kak Rendi istirahat.

Menjelang shubuh, aku pulang dengan ibu untuk berangkat ke sekolah sekaligus membuat surat izin untuk kak Rendi. Siangnya, selama aku sekolah, ibu menjaga kak Rendi di rumah sakit sementara bapak pergi bekerja.

Ibu berpesan kalau seandainya aku sudah pulang nanti untuk segera menyusul saja ke rumah sakit jika takut sendirian di rumah.

Sepulang sekolah, aku menuju ke rumahku terlebih dahulu. Tentu saja aku dapati rumah kosong. Setelah berganti pakaian, sebelum berangkat ke rumah sakit, aku makan dulu di depan tv dengan lauk yang sudah disiapkan ibu sejak pagi.

Keadaanku saat itu biasa saja, aku makan sambil menonton tv di ruang tengah. Namun tiba tiba saja dari arah lantai dua, aku mendengar suara langkah kaki seseorang..

Aku menghentikan kunyahanku dan terdiam seketika itu juga.. “duk duk duk duk duk” suara itu seperti mondar mandir di lantai atas dan berlari lari kecil. Aku beranjak dari dudukku dan melongo ke atas tangga. Tidak ada siapapun diatas.

Aku belum berani untuk naik ke atas tangga karena keadaan diatas gelap, dan cahaya hanya berasal dari ventilasi di langit langit kamar kak Rendi yang lampunya belum dimatikan sejak kejadian semalam. Apalagi siang itu cuacanya gelap mendung sehingga tidak ada cahaya dari jemuran.

Takut akan turun hujan, aku bergegas makan dan hendak berangkat ke rumah sakit tempat kak Rendi dirawat. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumahku, namun untuk kesana aku harus menaiki angkutan umum yang posisi rutenya melewati jalan besar di dekat rumah.

Sialnya, baru saja aku menyudahi makanku, hujan lebat turun disertai petir yang cukup keras menyambar. Akan sangat beresiko kalau aku memaksakan keluar untuk berjalan ke arah jalan besar untuk naik angkot. Akhirnya aku menunggu hujan reda.

Tak lupa, aku mematikan tv, karena kata ibu, menghidupkan tv saat hujan petir bisa bikin tv ditembak petir. Seketika itu juga rumah menjadi sangat sunyi dan hanya riuh oleh suara hujan dan sesekali guntur.

Tidak ada kegiatan, aku masuk ke kamar dan bermain dengan boneka bonekaku. Saat itulah, ditengah suara lebatnya hujan, aku mendengar suara orang menuruni tangga kayu lantai dua dan turun ke bawah dengan sangat cepat...

“duk duk duk duk duk” lalu terdengar suara kaki yang menginjak wallpaper plastik yang kami pakai untuk alas lantai rumah karena belum dikeramik.

Keadaan pintu kamarku saat itu tertutup, dan seingatku juga aku sudah mengunci pintu setelah mematikan tv. Aku memeluk bonekaku untuk menghilangkan rasa takut.

Meskipun takut, tapi aku terus melihat ke sekitar. Sampai aku sadari, dari celah dibawah pintu, aku bisa melihat sesuatu menghalangi cahaya lampu ruang tengah. Tandanya, ada sesuatu yang berdiri di depan pintu kamarku..

Aku menggigit bibirku kuat kuat. Menahan untuk tidak menangis atau menjerit. Kamar ini juga tidak punya jendela untuk aku lari. Hanya ada 2 ventilasi di dekat langit langit ke arah luar dan satu lagi menghadap ruang tengah.

Saat itu aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain berharap sesuatu itu tidak membuka pintu.. karena pintu kamarku ini tidak memiliki kunci selain grendel pintu yang hanya tinggal digeser..

dan saat itu grendel tersebut tidak sedang terpasang.. sedikit dorongan bisa membuka pintu kamar ini selebar lebarnya..

Lalu bayangan yang aku lihat dari celah bawah pintu itu mulai bergerak.. bolak balik ke kanan dan kekiri lalu diam di tengah, tepat lurus dengan pintu. Tok tok tok tok tok tok tok tok tok! Sesuatu di balik pintu itu mengetuk terus menerus seperti orang yang terburu buru.

Aku segara menutup telinga dgn kedua tanganku. Memaksa memejam mataku agar tidak melihat apapun. Biarpun telinga sudah kututup, tapi getaran getaran akibat pintu yang diketuk masih bisa aku rasakan.

Jantungku terasa semakin berdegup kencang saat aku mendengar suara decitan pintu kayu kamar yang terbuka… Keringatku saat itu bercucuran. Aku refleks menunduk padahal mataku sudah kututup rapat begitu juga dengan telingaku.

Beberapa menit berlalu, aku sudah tidak mendengar gerakan atau gesekan apapun disela sela suara rintik hujan yang sudah agak mereda.. Dan aku melakukan kesalahan fatal yang sampai saat ini masih terus berbekas di ingatanku dan aku sesali.. Ya, aku membuka mataku..

Ketika aku membuka mataku, pintu sudah terbuka sedikit dan dari celah itu muncul sebuah kepala yang menengok ke arahku. Kepala itu memiliki bola mata yang menggantung, tanpa hidung dan kulit yang terlepas dengan terus mengeluarkan darah merah kehitaman..

Rahangnya seperti longgar bergelayutan dengan lidah yang menjulur.. Sosok itu lalu mengeluarkan suara yang sama persis dengan yang kudengar kemarin.. suara orang kumur kumur..

Itu adalah hal terakhir yang aku ingat sebelum ibu membangunkanku di jam 8 malam. “dek, dek, bangun. Ayo makan dulu, udah kelamaan kamu tidurnya” kata ibu sambil mengelus pipiku. Aku terbangun dengan masih agak panik. “eh ibu?! Ibu pulang dari kapan?”

“tadi pas maghrib. Kamu enak banget tidurnya jadi gak ibu bangunin. Keujanan gak tadi pulang sekolahnya? Ketiduran ya?” “iya bu. Putri ketiduran tadi abis makan, nunggu hujan reda”

“iya udah gapapa, bahaya juga kalo kamu berangkat tadi. Hujan angin deres banget” jelas ibu sambil mau beranjak dari tempat tidur.

Aku merasa aku harus menceritakan semuanya kepada ibu. Aku keluar kamar mengikuti ibu. Aku masih mengumpulkan nyawaku dan sedikit linglung duduk di ruang tengah. Sementara ibu ke belakang menyiapkan makanan untuk kami.

Ibu lalu datang dengan sepiring nasi dan lauk untuk kami makan berdua. Aku lalu memulai pembicaraan saat ibu masih meniup niup nasi yang panas. “Bu Put mau cerita..” “hm?” tanya ibu. “Kok abis ada kecelakaan kemarin, kakak sama putri digangguin ya..”

“digangguin? Digangguin siapa?” tanya ibu lagi. “pas malam ibu pergi pengajian sama bapak, putri ama kakak di rumah berdua kan.. itu pintu belakang digedor gedor bu.." Jelasku.

"..Terus ada suara suara juga manggil nama kak Rendi sama Put.. terus ada suara suara aneh juga yang bikin put takut..” kataku sambil disuap ibu. “Suara aneh gimana dek?” tanya ibu dengan wajah heran. “suaranya kayak orang kumur kumur bu..” kataku bergidik.

“ohh.. kayak gini?...ALLLRGGHHBRLL” tiba tiba mulut ibu menganga lebar dan darah kehitaman keluar dari mulutnya.. Ibu berkumur kumur dengan darah itu sambil mencoba berbicara. Dan suara yang ibu hasilkan persis dengan yg aku dengar tadi maupun kemarin..

“IBUU IBUUU IBUUU!!!!” aku berteriak tapi seketika itu juga aku sadar mulutku juga sudah dipenuhi darah dari suapan ibu tadi.

Aku menjerit kencang dan sontak terbangun dari mimpiku dengan peluh sudah memenuhi sekujur tubuh.. Hujan telah reda dan aku mendengar suara ketukan dari arah pintu luar. tok tok tok “Putriiii” ujar panggilan itu yang mungkin juga alasan aku terbangun.

Saat itu aku masih shock dengan mimpi mengerikan yang baru saja aku alami. Terlebih aku juga sudah sangat trauma dengan ketukan pintu. Anehnya, posisi pintu benar benar terbuka sedikit, persis dengan yang aku ingat ketika sosok itu memunculkan kepalanya tadi..

Aku mengintip keluar, aku melihat jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Itu tandanya aku sudah tidur sekitar 2 jam. Kondisi diluar sudah cukup terang dan aku bisa melihat dari celah jendela banyak tetanggaku sedang beraktivitas diluar.

Tok tok tok “Putriiiii” kembali panggilan dan ketukan itu aku dengar. “si Putri tadi udah pulang kan ya bu?” tanya suara itu “perasaan udah, itu juga ada sepatunya” kata suara yang lain.

Akupun beranjak ke depan pintu dan mengintip dari jendela. Aku melihat seorang ibu ibu berdiri di depan rumahku sambil memegang payung basah yang sudah dikuncupkan. Disebelahnya ada tetanggaku yang sepertinya tadi menjawab pertanyaan ibu ini.

Akupun membuka kunci dan membuka pintu. “ya bu?.. maaf baru bangun tidur” kataku. “ah, iyaa, gapapa Putri. Tadi ibu ketemu sama ibu Putri di rumah sakit, terus disuruh ibu kamu periksa di rumah kamu ada di rumah atau enggak. Kirain belum pulang” jawab ibu itu.

“udah kok bu. Tadi kecapekan jadi tidur” kataku berbohong. “mau ke rumah sakit bareng sama ibu ga? Ibu mau kesana lagi, biar sekalian” kata ibu itu yg ternyata bernama bu Yuni, salah satu teman pengajian ibu yang orang tuanya juga sdg dirawat di rumah sakit yg sama dengan kakak.

Maklum, aku benar benar kurang bergaul dan tidak tau siapa siapa aja nama orang disekitarku, apalagi teman teman ibu.

Akupun mengiyakan ajakan tersebut. Aku mencuci muka dengan membiarkan pintu tetap terbuka. Setelahnya aku dan bu Yuni pergi ke rumah sakit dan bertemu ibu dengan kak Rendi yang sudah tampak lebih segar dan sudah mengobrol banyak.

Setelah bu Yuni pamit pergi ke kamar orang tuanya, ibu mulai menanyaiku beberapa pertanyaan. “kehujanan tadi pulang sekolah dek?” “enggak kok bu, tadi Put pulangnya sebelum hujan. Tapi pas abis makan baru ujan jadi gabisa berangkat” jelasku.

“terus ngapain aja kamu tadi? Tidur?” tanya ibu lagi. “iya bu, dari jam duaan ketiduran, baru bangun pas bu Yuni tadi manggil manggil Put” kataku. Ibu lalu mengangguk dan tidak melanjutkan dialognya.

Namun saat itu aku benar benar tidak tahan dan ingin menceritakan semuanya. Berhubung kak Rendi juga sudah terlihat pulih dan aku yakin ibu akan percaya.. “bu, besok Put pulang sekolahnya langsung ke sini aja ya, bawa tas sama seragam”

“kenapa? Takut keujanan lagi? Gak gerah kamu pake baju seragam dari pagi?” “Bukan bu.. Put ga berani pulang ke rumah sendirian.. takut.."

Ibu terlihat bingung. Tidak biasanya aku takut untuk tinggal di rumah sendirian saat siang hari. Padahal biasanya akulah yang minta ditinggal karena malas untuk datang ke acara nikahan atau acara lainnya yang diikuti ibu. “Loh tumben, kenapa nak?” tanya ibu.

“Ibu tau ga, pas ibu ke pengajian sama bapak waktu itu, Put sama kakak kan di rumah berdua aja.. waktu itu pintu belakang diketuk ketuk bu.. terus ada suara aneh juga kayak orang kumur kumur..” jelasku sambil sesekali melirik kak Rendi.

Dari wajahnya, aku bisa melihat keraguan pada ibu. Namun kak Rendi segera menimpali, “iya bu, Putri ga bohong. Rendi juga ngalamin bareng adek malam itu..”

Ibu terdiam, lalu berbicara sambil memegangi tanganku. “kita tunggu bapak sampai, nanti kalian cerita apa yang kalian alami kemarin itu ya..” ujar ibu.

Sekitar jam sepuluh malam, bapak datang ke rumah sakit sepulang dari bekerja. Setelah menanyakan keadaan kak Rendi dan sedikit obrolan ringan, ibu memulai pembicaraan yang daritadi sudah membuatnya penasaran.

“pak, anak anak ada yang mau diomongin..” kata ibu. “ada apa emangnya Ren?” jawab bapak langsung tertuju ke kak Rendi.

Kak Rendi lalu menjelaskan semuanya, dimulai dari ketukan dari pintu belakang, suara orang berkumur, suara ketukan di pintu depan bahkan suara yang menyerupai ibu dan bapak meminta dibukakan pintu.

Bapak menatap kak Rendi dengan pandangan nanar seolah menolak untuk percaya. Namun aku terus mengiyakan ucapan kak Rendi demi membuktikan bahwa kami tidak mengada ngada.

Kak Rendi menghentikan ceritanya sampai ibu dan bapak pulang dari pengajian malam itu. Ibu dan bapak tidak memberikan komentar apapun. Sepertinya keduanya mencoba mencari alasan logis dan bisa diterima oleh kami.

Tanpa memberi jeda lama, aku yang masih bocah saat itu, juga menambahkan kejadian yang baru saja aku alami siang tadi. Aku menceritakan suara langkah bolak balik, bayangan dibalik pintu, sampai wujud kepala yang mengintip dari celah pintu yang terbuka.

Aku menjelaskan dengan detail kondisi sosok itu kepada keduanya.. “… dia mukanya merah hitam gitu bu, daging dagingnya keliatan, ga punya idung, matanya keluar gitu dan ini lidahnya keluar keluar gitu gapunya dagu..” kataku menjelaskan sebisaku.

Karena hanya aku yang melihatnya, ditambah lagi aku tadi tidur siang, ibu menganggap itu hanya mimpi belaka. Barangkali aku terbawa karena trauma dengan kejadian sebelumnya. “kamu mimpi aja kali itu put.. masa siang siang diganggu gitu..” jawab ibu berusaha menyangkal ceritaku.

Namun tiba tiba kak Rendi memegang tangan ibu dan berkata, “bu, ibu gatau kenapa Rendi bisa pingsan di depan pintu kamar?.. makhluk yang diliat Putri itu PERSIS sama makhluk yang udah bikin Rendi pingsan bu!” jawab kak Rendi tegas mengejutkan kami semua.

“kamu pingsan karena kecapekan kurang makan Ren..” jawab bapak kembali membantah. “Enggak pak.. Rendi lebih tau apa yang rendi alamin sendiri”. Kak Rendi lalu menjelaskan kejadian malam itu dari sudut pandangnya...

Setelah selesai makan dan izin naik ke atas, kak Rendi tidak langsung tidur. Ia sempat membaca komik yang ada di kamarnya. Matanya menolak untuk tidur dan ada perasaan gelisah yang tidak bisa kak Rendi jelaskan.

Lalu menjelang jam sebelas malam, pintu kamar kak Rendi di lantai dua diketuk, dan dari arah luar ada suara bapak yang bilang “Ren, keluar dulu, bantu bersihin sini sambil kasih tau yang lain”

Kak Rendi lalu bangun sambil menyahut “bersihin apa pak? Bentar” . Mak Rendi lalu membuka pintu. Kamar kak Rendi sebenarnya punya jendela, hanya saja jendela ini ditutupi dengan poster poster majalah karena silau kalau siang hari.

Ketika pintu dibuka, ternyata bukan bapak yang berdiri di hadapannya, tapi sosok yang sama dengan yang aku lihat... Parahnya, kak Rendi melihat sosok ini dari jarak yang sangat dekat!

Bahkan kak Rendi menjelaskan lebih detail dari apa yg aku lihat.. kepala sosok ini menggantung seperti akan putus, sementara posisi sosok ini sedang mengesot di lantai dengan isi perut terbuai yg mengeluarkan aroma busuk dan anyir.. Baunya benar benar membuat mual.

Kak Rendi langsung membanting pintu, namun tiba tiba saja pandangannya kabur dan pingsan. Ia juga tidak tau kenapa pintu saat itu bisa terkunci saat kami datang padahal seingat kak Rendi, dia belum sempat menguncinya kembali.

Bapak seketika berubah wajahnya menjadi serius. “Apa yang udah kalian lakukan sampai bisa begitu?” tanya bapak. ”Itu pasti arwah korban kereta kemarin yg teror kalian” tambah bapak sebelum kami sempat menjawab pertanyaan sebelumnya. “hush bapak!” ibu menepuk pelan bahu bapak.

“Gak ada arwah arwah penasaran pak. Itu jin yang nyamar jadi korban. Pasti ada alasannya jin jin itu niru jadi korban dan bikin anak anak begini” jelas ibu dengan yakin. “Rendi, Putri, kalian pas kejadian waktu itu ga keluar rumah dan ngeliat jenazahnya kan?..” tanya ibu.

DEG. Aku seketika panik. Aku memang keluar rumah tanpa seizin ibu dan melihat jasad korban cukup lama. “engg.. Putri ngeliat bu.. Putri ke tanggul sama anak anak lain, ngeliat yang kemaren kelindes..” jawabku dengan ragu ragu karena takut.

“Ya Allah nak.. terus kamu gak mandi atau cuci muka sepulangnya?..” tanya ibu. “engga bu..” jawabku pelan. “Kamu Ren? Ngeliat juga?” tanya bapak. “iya pak, dari lantai dua.. dan kayaknya Rendi juga tau kenapa dia bilang ‘kasih tau yang lain’” jawab kak Rendi.

“Maksudnya?” tanya ibu “Pas malam itu, suara bapak yang di depan kamar Rendi kan minta tolong bersihin dan kasih tau yang lain.. Sebenernya Rendi ngeliat prosesnya dari awal kejadian bu, pak..” jelas kak Rendi. Aku menyimak dengan penasaran, begitu juga ibu dan bapak.

Kak Rendi melanjutkan ceritanya “yang kemarin itu ketabrak kereta, dia ga bunuh diri atau kecelakaan pak.. waktu ada suara orang teriak teriak bilang kereta dateng itu, Rendi lagi di jemuran.. Rendi liat ada beberapa orang yang lagi pegangin orang lain...

...Pas kereta udah dekat, orang tadi didorong suruh jalan ke tengah rel dan akhirnya ketabrak.. Selama kereta lewat, yg lain mereka semua kabur dan ga keliatan lagi. Itu bukan kecelakaan, tapi kayaknya pembunuhan dgn cara memaksa orang bunuh diri..”ujar kak Rendi dengan gemetar.

Ucapan kak Rendi itu tentu saja membuat mata kami semua terbelalak. “Kamu nyaksiin itu semua Ren???” tanya bapak tidak percaya. “Semuanya keliatan jelas dari jemuran lantai dua pak..” jawab kak Rendi sambil menghela nafas. “Terus yang bersihkan itu?..” tanya Ibu.

“Rendi gatau ini maksudnya atau bukan, tapi sore itu pas orang udah pada bubar, Rendi ke deket lokasi, Rendi nemu ada serpihan serpihan daging kecil yang ga sengaja Rendi injek.. dagingnya nempel di sendal, terus Rendi gosok gosokin ke tanah..” jelas kak Rendi sambil menunduk.

Kak Rendi sepertinya tau dirinya bersalah menyembunyikan itu semua seorang diri. Kak Rendi lalu menangis dan ibu langsung memeluk kak Rendi untuk menenangkannya. “Maafin Rendi bu…” kata kak Rendi masih di tengah tangisannya.

"Iya nak.. gapapa..gapapa.. kita bersihin sendal kamu nanti kalau sudah pulang ya.. “ jawab Ibu menenangkan. Aku tidak bisa memberikan komentar apapun karena terkejut dengan semuanya.

“Ren, kalau kata bapak, tentang orang orang yang kamu liat, kamu gausah ceritain ke orang lain. Cukup keluarga kita aja yang tau. Nanti kamu kenapa kenapa..” saran bapak. “iya pak, Rendi juga gamau bilang karena takut juga..” jawab kak Rendi.

Total 2 hari kak Rendi dirawat sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Sebelum kak Rendi kembali ke rumah, bapak menyiramkan air ke sekeliling rumah dan menggosok semua noda kecoklatan di belakang rumah yang dikhawatirkan adalah cipratan darah yang sudah mengering.

Tidak lupa, bapak juga membersihkan sendal kak Rendi hingga bersih. Untuk sementara waktu aku benar benar tidak berani lagi ditinggal sendirian. Sekalipun ditinggal, aku hanya mau ketika siang hari dan pintu depan kubuka agar aktivitas tetangga membuat suasana rumah terasa ramai.

Kak Rendi juga trauma untuk tidur di kamarnya dan memilih menurunkan kasur ke ruang tengah dan tidur disana selama berbulan bulan.

Kamar atas digunakan sebagai tempat tadarus dan sholat tahajud ibu, karena ibu yakin jika sebuah ruangan sering digunakan beribadah, maka jin tidak akan mengganggu tempat tersebut.

Keluarga kami masih tinggal disana sampai aku lulus SD. Setelahnya karena satu dan lain hal yg bukan terkait hal horror, kami pindah ke kontrakan dengan ukuran rumah lebih besar, sementara rumah kami itu kami kontrakan.

Selama jangka waktu itu, alhamdulillah kami tidak lagi mengalami gangguan yang berarti.

Aku tidak tau apakah investigasi kepolisian akhirnya menguak sebagaimana yang kak Rendi lihat ataukah tidak. Karena ternyata korban memang bukan warga sekitar rumah kami sehingga kami tidak begitu mendapatkan informasi lengkap mengenai kecelakaan tersebut.

Ketukan dari Korban Terlindas Kereta -Tamat-

Note : cerita ini sama seperti Jaga Mayit. Tidak full kisah nyata yg dialami satu narsum, namun berasal dari campuran kisah dari narasumber berbeda serta urban legend, lalu disatukan menjadi sebuah cerita oleh admin.

Terima kasih bagi yang sudah membeli ebook kisah ini melalui Karyakarsa dan antusias membaca thread ini melalui twitter, sampai jumpa lagi di kisah kisah berikutnya.



Follow us on Twitter

to be informed of the latest developments and updates!


You can easily use to @tivitikothread bot for create more readable thread!
Donate 💲

You can keep this app free of charge by supporting 😊

for server charges...