Fadli Wilihandarwo

Fadli Wilihandarwo

27-07-2022

04:30

Mau experiment ini nih dalam 24 jam ke depan! Excited!

Bismillah. Mulai. 24 jam ini akan aku bagi dalam 3 bagian: - siang sampai malam nanti akan mikirin ide dan problem apa yg di selesaikan - malam setelah anak tidur hingga sekuatnya begadang bakal fokus buat produknya - besok pagi sampai siang bakal marketing-in produknya

Bagian 1 - Mikirin ide Ide sih banyak dan liar, tapi yg bisa dilakuin cepet, dengan skill yg ada, dan bisa ngasilin duit dalam 24 jam pastinya ga banyak. Jadi coba aku listing dulu skill dan knowledge yg aku punya saat ini, dan kemungkinan bisa dijadiin produk

Skill: - Buat website dan app tanpa coding - Facilitate Design Sprint - Nulis content blog & social media - Design pake Canva - Ngedit video Knowledge: - Startup - Productivity - Digital Marketing - SEO - Project Management - Fullstack Coding - No Code

Nah berarti tinggal cari match yang tepat antara skill dan knowledge yang aku punya. Ide produk digital itu biasanya ga jauh diantara 3 kategori ini, yakni ngebantu orang untuk meningkatkan 1/ Pendapatan 2/ Kesehatan 3/ Hubungan antar manusia

Kalau pendapatan, bisa 2 sub kategori lagi, yakni: a/ Ningkatin pendapatan b/ Menekan pengeluaran Biasanya model ini yang paling favorit, karena keliatan langsung dampaknya dan dapat diukur dengan mudah melalui mata uang.

Kalau kesehatan, bisa dibagi sub kategori: a/ Menjaga tetap sehat b/ Menyembuhkan yang lagi sakit c/ Membuat lebih sehat lagi Kalau ini tuh deket banget sama faktor emosional, apalagi kalau udh urusannya pengen sembuh dari sakit, berapapun duitnya (kalau ada), bakal dikeluarin.

Kategori terakhir, kalau hubungan antar manusia itu bisa: a/ Menjaga hubungan (misalnya media sosial, chat app, dll) b/ Membuat hubungan (jodoh app) c/ Memperbaiki hubungan (konsulen pernikahan)

Kayaknya pilih yang paling mudah convert nya deh, yang katgori pertama, soal pendapatan. Bisa naikin income atau nurunin pengeluaran. Dicocokin sama knowledge dan skill.. Sekarang mikir, mana yg paling possible ya ?

Untuk milih, bisa dibantu pake pendekatan: audience mana yang aku tau dimana mereka biasa ngumpul (kalau kondisi skrg, tempat yang aku maksud disini adalah online: website, forum, youtube channel, public figure)

Biar lebih spesifik lagi dalam cari idenya, sekalian nepatin target revenue deh. Dalam 24 jam ke depan, nargetin dapat at least Rp 10 jt.

Coretan ide sementara: - Tools yg bisa ngebantu orang2 buat membership online program secara mudah end to end - Online course tentang cara membuat online course dari expertise yg dimiliki - masih cari ide lain…

Sambil brainstorming ide, lompat dulu ke milih calon customer yg cocok. Kalau dengan basis ide dari twit sebelumnya, berarti nyari customer yg : - mau ngeluarin duit untuk dapatin duit - punya keahlian atau pengetahuan di bidang tertentu - mau ngebuat pengetahuannya jadi produk

Berarti kalau dgn 3 kriteria tadi, mungkin cocoknya: - coach - speaker - penulis buku - content creator dgn genre education Nah poin 1,2 dan 4 itu kayak aku sebenernya karakternya.

Nah ini tips jg nih. Kalau mau buat produk yg mudah, cari customer yg mudah, coba buat produk utk diri sendiri. Ini bisa dilakukan klau: - problem yg kita alami real - kita tau kemana cari org kayak kita - kita pernah berusaha cari solusinya

Tapi perlu hati2 kalau mau buat produk untuk nyelesaiin masalah sendiri, kalau ga terlatih untuk peka terhadap masalah, kadang jadinya bias. Bisa jadi customer nya kita sendiri, dan orang lain ga ngalamin. Nah ini bisa jadi produk yang gagal.

Ok, kayak nya kunci aja dulu deh audience tadi, biar bisa pindah ke next step. Jadi calon customer nya aku tetapin: Speaker yang punya keahlian / pengetahuan di topik tertentu. Mereka ini biasanya sering ngisi webinar / workshop dgn topik yg sama beberapa kali.

Next tinggal listing berbagai problem yg dialami oleh calon customer tadi. Trus milih salah satu problem yg paling pain. Trus dijadiin fitur. Semoga lancar!

Hampir tadi kejebak mindset founder yg salah di twit2 yg ada coretan sticky notes nya tadi. Salahnya adalah mulai dari solusi lebih dulu, bukan dari customer dan problemnya. Jadi harusnya ga ada beban dulu mau buat apa, tapi yg penting buat siapa dulu.

Ok, sekarang mau coba listing problem dari si calon customer. Sebagai seseorang speaker yg punya knowledge di bidang nya masing2, akan ada 2 pendekatan dalam membagi ilmunya. 1/ interaktif melalui webinar, workshop, 1-on-1 session 2/ non-interaktif melalui recording atau buku

Kalau interaktif, problem nya adalah soal scalability. Penerima manfaat nya dibatasi kapasitas ruang dan interaksi yg bisa kita buat. Sedangkan kalau non-interaktif, problem nya adalah rasa personalisasi yg kurang, semua orang akan dibuat sama experience nya.

Kalau problem pertama yg interaktif diatas, untuk jadi scale, jalan satu2nya yg kepikiran saat ini adalah menjadikan sebanyak mungkin komponen non-interaktif nya. Misalnya dijadiin recorded online course.

Trus ketika sudah jadi non-interaktif, rata2 learning experiencennya jadi jelek: - ga personal - ga termotivasi nyelesein content nya - ga ada yg ngontrol

2 tahun yg lalu saya kayak gini. Trus nyari2 solusi. Nemu sih, kayak @Kajabi, @WordPress yg ditambah plugin lms kayak @LearnDashLMS. Trus buat payment biasanya pake @xendit_co @Midtrans_com atau @mayar_id_ trus integrate pake @zapier. Ribet kan.

Mau nidurin anak dulu. Nanti jam 10an disambung lagi yaaa

Ok dua anak udh aman tertidur pulas. Mari lanjut.. ^^ Nah tadi sampai di bagian soal ribetnya setup sebuah sistem yang complete untuk menghadirkan learning experience yang baik secara non-interaktif. Setup nya sendiri bisa memakan waktu seminggu. Tentu ga tiap orang mau.

Kalau udh sampai di tahap ini, kadang tergoda untuk menghadirkan semua solusi dari semua masalah yang sudah kita mention. Harus tahan diri & nafsu. Kenapa? Karena dgn membuat semua fitur diawal, kita ga bisa tau pasti, apasih yg sebenernya buat cust awal mau pake produk kita?

Jadi bagian terberatnya akan segera kita mulai. Memilih satu masalah saja. Ok, dari masalah2 tadi, kayaknya yg saya belum nemuin solusi yang tepat terkait personalisasi learning experience yang kurang baik selama ini untuk metode belajar non-interaktif dari expert.

Ok problem nya udh dipilih yg super spesifik. Sekarang kita buat use case nya dulu sebelum masuk ke brainstorming feature. Use case ini akan mempermudah kita dalam menentukan batasan yang lebih sempit lagi terkait fitur.

Untuk kali ini, use case nya kayaknya pake: Seorang penulis buku yg ingin memberikan online course dan mentoring personal bagi pembacanya yang ingin mendapatkan hal lebih dari sekedar buku yang dibacanya. Tipe bukunya adalah buku yang ada proses transformasi bagi pembacanya.

Misalnya penulis buku-buku diet, financial freedom, bisnis, karir, skill, dll. Harusnya banyak kan ya. Jadi kayaknya marketnya cukup untuk dikejar besok.

Ok next ngomongin solusi. Ditahap ini kita harus bisa ngasih lebih dari 1 alternatif solusi dari 1 problem yang sudah kita kerucutkan tadi. Problem: Online learning experience masih belum bisa terasa personal di tiap peserta program online learning.

Solusi: 1/ Personal notes yang sync antara peserta dan pengajar 2/ Path yang berbeda antar peserta tergantung dari jawaban sebelum memulai program 3/ lainnya….

Tadi ga tahan banget ngantuknya. Untung kebangun lagi skrg. Mudah-mudahan sebelum Subuh, produknya udh bisa selesai ya. Biar nanti pagi sampai siang fokus ngejar sales. Semangat!

Nambahin solusi: 3/ Memiliki dedicated room dengan assistant yang dikhususkan seperti bagaimana nasabah prioritas di bank mendapatkan layanan 4/ On boarding call, kemudian peletakan peserta di kelas / path tertentu berdasarkan kondisi epeserta yang ditentukan oleh pengajar

Ternyata baru sadar, pengajuan solusi 1 dan 3 mirip, kemudian 2 dan 4 mirip jg. Beda cara menyampaikan aja. Ya udah pilih diantara 2 itu aja dulu fitur yg utama mana. Hmmmm mana ya…

Secara bahasa marketing kayaknya lebih powerfull yang ketiga deh. Jadi kayak ada dedicated room dengan dedicated assistant bagi tiap peserta. Wujud kongkritnya yg di solusi pertama sih. Simple nya ada page khusus cuma buat peserta aja, yang pengajar bisa isi dengan konten apapun

Tapi sebagai pelengkap, tetap perlu ada page yang tujuannya buat semua peserta dengan konten yang sama. Jadi ada elemen content yang one-for-all dan ada yang one-for-one.

Jadi mungkin secara visual kira-kira gini kali ya. Ada page dalam tab General, yang isinya konten yg bisa diliat setiap peserta, dan semua sama. Dan ada jg tab Personal, yang isinya nanti bisa beda-beda untuk setiap peserta. *visual ini dibuat pake @whimsical

Ok, konsep udh agak clear, sekarang tinggal eksekusi. Kalau coding kayaknya ga bakal sempat nih. Ya udah berarti pake tools no code aja.

Untuk ini aku bakal butuh: - Homepage / Landing page untuk marketing site nya - Member area bagi customerku mengisi form untuk order layanan - Member area bagi customernya customerku untuk mendapatkan konten yang general dan personal tadi

Kalau di dunia tech, ini dikenal sebagai multi-tenant applications. Jadi setiap customer kita punya subdomain sendiri, dia bisa jualan layanan disitu, kemudian user dari customer kita akan berada di bawah subdomainnya customer kita masing-masing.

Kalau ada waktu cukup, dan mau ngoding sendiri, mungkin aku bakal start dengan boilerplate dari Vercel Platform: Tapi ini kayaknya ga cukup deh secara waktu.

Ok, kalau gitu pake no-code tools yg support multi-tenancy ada: - @glideapps - @softr_io - @StackerHQ - @NolocoHQ Skrg di liat, mana yang ada free plan nya, atau at least ada free trial sekian hari.

Lanjut ya. Sebelum nganter anak sekolah, at least kelarin Homepage nya dulu. Untuk homepage, coba buat pake @typedreamHQ deh. Foundernya org2 indonesia yg lagi tinggal di San Fransisco. Nice nih!

Bagian tersulit menurutku dari sebuah website adalah membuat headline utama yang catchy. Butuh revisi berkali-kali. Ini hasil kerja 7 menit awal ini. Gimana? Udah cukup menjual belum headline nya ? Ingat, target website ini adalah untuk expert (misalnya penulis buku).

Design tipis-tipis untuk hero image di canva

Udah nganter anak sekolah, udh duduk manis di warung kopi deket sekolah anak. Sisa 4 jam lagi sebelum deadline experiment 24 jam making money online dari 0. Agenda: - 30 menit rapihin website - 15 menit implementasi form registrasi - 30 menit nulis email promosi

- 15 menit searching kontak 5 penulis buku, speaker, atau coach. - 30 menit buat email personal ke masing Abis itu masih sisa 2 jam untuk nunggu hasilnya, dan coba cari tambhan customer lagi melalui cold email / cold dm Semangat!

Tips biar buat produknya cepet dan ga terjebak perfeksionis: Cukup buat Hero Section dan Pricing Section dulu aja. Nanti yang lainnya bisa sambil dilengkapi setelah launching. Value nya ada di Hero, Call to Action nya ada di Pricing. Done

Gimana kalau pricing nya gini? Semoga ok lah ya.

Website done, tinggal form registrasinya. Aku rekomendasiin pake @TallyForms sebagai alternatif versi free dari @typeform

Done. Sekarang promosi. Waaahh sisa 2 jam lagi!

Ubah strategi last minute. Ga jadi via email, cukup lama ternyata. Coba cari via linkedin aja. Dengan searching, connect, trus DM yang personal. Semoga working.

Ini langkah-langkah cold email / dm yang nggak annoying: 1/ Lihat-lihat buku populer di situs gramedia 2/ Baca sekilas sinopsis nya 3/ Cari kontak penulisnya di google 4/ Kirim pesan dengan menceritakan secara personal buku yg udh ditulis, dan apa yang bisa kita bantu

Udah kontak 1 penulis buku produktif di jogja. Ga kenal sih sebelumnya. Udh kontak via FB nya. Trus nemu no Whatsapp. Kayaknya no asisten nya deh. Udah kirim WA, liat dibalas atau ga nanti.

Langsung di block guys WA saya 🥲

Ok sesuai dugaan awal, memang sulit kalau dari cold audience langsung tiba-tiba pengen di convert. Dan experiment saya membuktikan hal ini. Sekarang coba saya reveal deh startup yang baru saya buat, dan langsung saya tawarkan ke audience saya di twitter, linkedin, dan instagram.

Dan ini memang diseriusin sih startup nya. Align dengan apa yang saya lakukan. Kalau kamu tertarik mau dibantu untuk setup berbagai hal terkait model bisnis dari sharing knowledge, baik itu online coaching, online course atau membership, silahkan daftar:

Udah ada 1 yang daftar, tapi kayaknya akun asal coba2 deh. Now, lagi coba buat tulisan di Linkedin dulu ya.

Ada yg daftar satu lagi, kita lihat apakah beneran transfer ya untuk memvalidkan ide ini.

Ok karena udh mau masuk waktu Zuhur, kita close challenge nya. Dengan hasil…. jeng jeng jeng.... Belum ada yg transfer (masih nunggu satu untuk konfirmasi, tapi ini leads nya karena saya post disini). So mengecewakan ga dapat customer ? Ga sih.

Ini membuktikan satu hal, bahwa membangun audience itu penting sekali, walaupun kita belum ada product nya. Sangat sulit orang untuk melakukan pembelian, jika ia ga kenal dan ga percaya kita. Saya sejak 2016 suka ngepost terkait startup di media sosial.

Tahun 2020 ketika pandemi, saya mendirikan @sekolahstartup , dan saat launching langsung dapat 70 customer dengan masing2 bayar Rp 1.000.000,- Duit itu saya gunakan untuk bangun company dari awal. Untuk deliver apa yang saya janjikan ketika launching.

Jadi, sekali lagi, audience itu penting. Dan walaupun kita lagi jatuh bisnis nya, audience yg loyal dan sering melihat post kita, akanlah terus loyal. Intinya adalah di delivering value.



Follow us on Twitter

to be informed of the latest developments and updates!


You can easily use to @tivitikothread bot for create more readable thread!
Donate 💲

You can keep this app free of charge by supporting 😊

for server charges...